Sabtu, 06 April 2013

ChitChatCurcol (Sial’s Day)

         Alhamdulillah, seruku dalam hati ketika aku sudah bangun dari tidurku. Ternyata Allah SWT masih memberikan aku jiwa dan raga untuk hidup dihari ini.
Hari ini adalah hari Kamis tanggal 04 April 2013. Tepat dihari ini saatnya aku KulTuM (KuliahTujuhMenit), ini adalah istilah di sekolahku untuk muridnya berkhutbah, akan tetapi hanya dalam waktu tujuh menit. WOW. Yeah, itulah satu kata yang hanya bisa aku katakan ketika teman sekelasku (Salshabilla Putri Amelia) berkata bahwa aku dijadwalkan kultum pada hari Kamis. Pada saat itu hari Senin 01 April 2013. Gugup yang pastinya sudah menyelimuti diriku sejak hari itu. Bagaimana tidak? Dalam waktu tiga hari aku harus mempersiapkan teks yang memuat tema ‘wanita’ dalam kisaran waktu tujuh menit.
Dengan waktu yang termasuk mepet ini aku tetap membuat diriku tenang. Aku nggak boleh gugup sedikitpun. Jangan-jangan entar aku malah disangkain alay lagi. Setelah aku mengetahui hal ini, sepulang sekolah aku meminjam laptop temanku untuk intenetan, sejenak untuk mencari ide dan referensi teks kultum tersebut. Sepulang sekolah aku mengikuti ekstrakulikuler dan disanalah aku bisa meminjam laptop temanku.
Jadwalku dihari Senin itu termasuk “sangat padat”. Sepulang ekstra sekitar pukul 17.00 WIB, tanpa mandi aku langsung membuka laptopku dan membuat rangkuman dari referensi yang sudah aku dapatkan di sekolah tadi. Sekitar pukul 18.15 aku pergi kerumah temanku (Graciani Cahyadresta Dewanda) untuk ngeprint hasil teksku tadi dan yang pasti aku sudah mandi *xixi*. Di rumah temanku yang biasa dipanggil Dian ini aku mencoba mengobrol dengannya tentang kegugupanku dan yang pastinya tentang PR diesok hari yang belum sempat aku kerjakan.
W-O-W juga kan? Setidaknya, inilah hari dimana keberanianku akan diuji. Hari Kamis. Aku sudah beberapa kali latihan dan semoga saja hari ini aku diberkahi Allah SWT agar kultumku ini lancar. Amin.
Sudah delapan jam aku menjalani pelajaran di hari Kamis ini. Ada pelajaran English Brekfast, biology, physics, and clinic. Pukul 15.00, sekitar 15 menit lagi acara kultum akan dimulai. Dan apakah kalian tahu? Sekitar 20 menit sebelum jam 15.00, ada kejadian yang sangatlah sial bagiku. Saat itu aku sedang latihan kultum didepan salah seorang temanku (Permata Ayu). Mungkin karena aku terlalu fokus memegang teksku itu “walaupun sebenarnya aku tidak membacanya”, akhirnya teksku itu sobek ¾ bagiannya tepat ditengah. Bagaimana jadinya? Jika saja semisal aku tidak lancar, aku pasti membutuhkan teks itu, dan bagaimana caraku membacanya jika teks itu sobek. Mungkin aku sudah hampir menangis dan nyerah hari itu. Terlintas beberapa kali dipikiranku untuk kabur dari sekolah agar aku dianggap tidak masuk hari ini. Oh no! kalau saja pikiran itu terjadi aku pasti akan diskors *mungkin* atau masuk dalam tulisan tangan BK (Bimbingan Konseling).
TIDAAAAAKK, ARGGGHHHH !!!
Dengan muka yang memelas, akhirnya temanku yang biasa dipanggil Permata atau disingkat PA ini mengajakku ke Koprasi Sekolah. Setelah sampai didepan koprasi, terlihat beberapa kakak kelas 8 cowok menongkrong didepan pintu masuk. Yang jelas aku tidak akan memilih jalan itu dan aku lewat pintu samping dan ternyata disana ada kakak kelas 8 cewek yang juga nongkrong. Dengan terpaksa aku melewati jalan itu, aku berkata,
Permisi mbaaak,” awalnya aku berkata begitu dan PA duluanlah yang melewati, aku berkata demikian lagi. Lalu? Satu kakiku sudah terbebas dan satu kaki lainnya dijepit oleh kakak kelas itu. Aku berkata lagi dan akhirnya dilepaskan saat salah satu dari mereka berkata “Eh, kasihan looh.”
Hiiih mangkelno, umpatku dalam hati. Setelah membeli satu isolasi aku kembali melewati jalan samping itu dan kakak kelas cewek tadi berkata,
Dek, nggak boleh lewat, 5000 dulu :p” terpaksa aku hanya menjawab,
Mbak, uangku tinggal 4000, ciyus deh”
Nggak boleh lewat kalau gitu dek :p”
Aku hanya menunggu dengan sikap tegap, sedangkan PA sudah melewati kakak kelas itu duluan. Terdengar sekali salah satu dari kakak kelas itu berkata,
Nggak usah dikasih jalan :p”
Ayo ta mbaak, permiiiissssiiiii” Sudah hampir emosi aku berkata seperti ini. Sampai akhirnya, kakak kelas yang menodongku uang 5000 itu terjatuh dari dua anak tangga di koprasi itu, dan disitulah aku langsung kabur dan bisa dibilang lari dari koprasi. Ditengah jalan tepat didepan kelasku, kelas 7A, aku menambal teksku yang sobek itu. Tiba-tiba …
TEEEEETTT, bel berbunyi sekali lalu adzan ashar terdengar. Makin guguplah detak jantungku ini. Setelah sholat ashar, imam di masjid sekolahku berkata,
Silahkan yang kultum”
Akupun maju melewati shof perempuan dan shof laki-laki. Anehnya, melewati shof-shof ini nggak membuatku gugup sekalipun karena dari tadi aku berdo’a kepada Allah SWT agar aku diberikan kelancaran diacara kultum perdanaku ini. Aku memulainya dengan salam dan mengakhirinya juga dengan salam. Dan kalian tahu? Aku tidak terlalu sering membaca teks itu, hanya sekali-kali saja tapi itu sudah membuatku senang. Dan hari ini berakhir dengan kegugupanku yang hilang entah kemana bersama seulas senyumku.




KATEGORI : TRUE STORY
AKTOR/AKTRIS : Wahyu Nur Syarafina

Selasa, 12 Maret 2013

MY BEST FRIEND (Part 3) - The End

Aku tidak tahu ini kebetulan, takdir, atau apa, tapi yang jelas kelas dua aku satu kelas lagi dengan Dika. Dan walaupun sebenarnya masa ‘tutorial’-ku dengannya sudah berakhir—setidaknya saat ia menunjukkan peningkatan prestasi—kami akhirnya tetap duduk sebangku dan berteman dekat. Banyak orang-orang meledek kami dan menyebut kami berdua pacaran, tapi tidak, kami tidak berpacaran. Kami hanya bersahabat dekat, seperti kakak dan adik. Namun, di kelas tiga, mendadak semuanya berubah. Sangat berubah. Diawali dengan kesibukanku mengikuti seleksi olimpiade fisika di penghujung tahun keduaku, yang berarti agendaku akan terus dipenuhi dengan karantina dan lomba hingga akhir semester awal kelas tiga. Di saat-saat seperti itu aku mulai merasa bahwa pertemananku dengan Dika mulai berjarak. Walaupun masih tetap sekelas, namun frekuensi pertemuan kami di sekolah menurun drastis, mengingat hampir setiap hari aku terkena dispensasi untuk persiapan olimpiade.
Kalaupun aku sedang masuk sekolah, entah mengapa Dika juga terkesan ogah-ogahan berbicara denganku. Rasanya hubungan kami kembali ke titik awal lagi, saat ia dan aku masih saling diam satu sama lain. Puncaknya, saat aku masuk sekolah setelah melalui seminggu masa karantina, aku menemukan bahwa Risma lah yang mengisi posisi bangku di sampingku, bukan lagi Dika. Ia dengan seenaknya menyuruh Risma bertukar posisi dengannya agar ia tidak lagi sebangku denganku.
Marah, kesal, heran, semuanya bercampur menjadi satu saat itu. Tak tahan, aku melabraknya saat istirahat makan siang.
Maumu apa sih, Dik?” tanyaku tanpa basa-basi saat menemukan ia di kantin. Dika tidak menatapku, ia malah tetap fokus memakan mie ayamnya.
Dika!!!” Aku menggoyangkan bahunya, agak kasar. “Maksudmu apa? Tahu-tahu pindah kursi begitu?” Ia melirikku dengan tatapan terganggu.
Dua tahun kita duduk sebangku. Aku butuh variasi teman.” 
Apa?” Aku tak bisa mempercayai pendengaranku saat itu.
Singkatnya, aku bosen aja sebangku terus sama kamu, Rika. Sesimpel itu.” 
Aku terlalu kaget untuk bisa bereaksi, sehingga aku sempat terdiam mematung selama beberapa detik. Mendadak sebuah logika sederhana terbentang di otakku, Dika ya tetap Dika. Seorang anak yang bandel, tidak perduli seberapa eratnya persahabatanku dengannya.
Aku langsung balik badan dan berlari dari kantin. Berlari sejauh mungkin dari Dika, karena aku tidak ingin ia menyaksikan air mataku yang mulai tumpah. 
*----*
Kembali lagi ke hari ini.
Sudah tiga hari Dika tidak masuk sekolah dan sudah sehari semenjak SMS Vino yang mengabari tentang meninggalnya ibu Dika. Walaupun hubungan kami sudah tidak seakrab dulu lagi, bohong kalau aku bilang aku tidak peduli dengan berita duka tersebut. Apalagi ini ada sangkut pautnya dengan ibu dari sahabatku—mantan sahabatku.Tapi, alangkah terkejutnya aku atas apa yang aku temukan di kelas yang masih kosong pagi ini.
Muhammad Dika Faresta, ada di kelas—dan ia duduk di sebelah bangkuku.
“Dika?” tanyaku kaget. “Kamu masuk? Kok kamu pakai baju bebas?” Dika menatapku dengan tatapan sedih.
“Aku bukan mau masuk sekolah, Rik. Aku mau pamitan sama mengurus surat pindah.” 
“Pi-pindah?” Aku tergagap. “Pindah ke mana?”
“Ke Solo.” Telapak tanganku langsung terasa dingin saat mendengar itu. Namun, kebalikan dengan telapak tanganku yang dingin, aku merasa bahwa mataku mulai panas dan berair.
“Kenapa? Kok mendadak banget?” tanyaku, mulai dengan artikulasi terbata-bata karena menahan tangis.
“Nggak mendadak, sebetulnya.” Pandangan mata Dika menerawang jauh. “Sebelumnya, aku mau minta maaf, Rik.”
“Minta maaf?”
“Iya. Karena sudah menyakiti kamu waktu itu, waktu aku mendadak tukar bangku dengan Risma. Tapi semua itu aku lakukan, karena aku nggak tahan harus dekat-dekat sama kamu, saat aku bahkan nggak bisa cerita apa pun ke kamu.”
“Cerita apa? Apa yang selalu kamu sembunyikan selama ini?”
“Bokap divonis kangker otak semenjak awal kita masuk kelas tiga, Rik.” Dika berhenti sejenak, menghela napas, berat. “Itu sangat berat buat aku, buat keluarga aku. Kamu tahu kan gimana kondisi keluargaku. Abangku masih tetap saja nggak pulang-pulang walau udah tahu bahwa ibu sakit. Ayah juga bukannya berusaha tegar dan merawat ibu, tapi malah panik sendiri dan menambah keruh suasana. Praktis yang merawat ibu cuma aku dan pamaku, adiknya ibu.”
Dika terdiam sejenak, seperti menahan emosinya. Hening menyelimuti kami berdua meski hanya sesaat. 
“Saat itu, aku ingin sekali cerita ke kamu. Seperti waktu kelas satu, pertama kalinya aku cerita ke kamu tentang kondisi keluargaku yang berantakan. Tapi kamunya lagi sibuk dengan olimpiade fisika, dan kamu kelihatan capek sekali dengan kegiatan itu. Makanya aku nggak cerita ke kamu, aku takut menambah bebanmu.”
Pertahananku tumpas sudah. Air mata mulai jatuh membasahi pipiku. Sahabat macam apa aku ini? Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Aku bahkan berani menuduh Dika macam-macam saat ia mulai menjauh dariku. Aku ini benar-benar bodoh!
Dika mengalihkan pandangannya ke lantai, menunduk.
“Jangan nangis, Rik,” ujarnya pelan. “Kamu nggak tahu seberapa besar rasa bersalahku sama kamu, jadi tolong, jangan nangis. Itu cuma membuat perasaanku makin sedih.”
“O-oke.” Tersendat-sendat, aku berusaha meredakan tangisku. “Ja-jadi … kenapa? Kenapa kamu harus pindah?” 
“Pas ibu divonis sakit, keluargaku makin nggak jelas. Abang yang nggak pulang-pulang, ayah yang nggak bisa diandalkan, ibu yang kondisinya makin buruk dari hari ke hari … Akhirnya keluarga besarku menimbang-nimbang bahwa aku pindah saja ke Solo, biar aku diasuh sama nenekku di sana.”
“Harus, ya?” Aku bertanya pelan, sakit. “Kamu harus pindah?”
Dika mengangguk lemah. “Sekarang ibu udah nggak ada, Rik. Keluargaku udah benar-benar kehilangan ‘tiang’ penyangganya. Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi untuk diandalkan di sini.”
“Kamu ...” Aku terdiam, kehabisan kata-kata. “Kamu seharusnya cerita ke aku. Bodoh!”
Dika tersenyum pahit. “Kamu nggak tahu betapa aku sangat berharap bahwa aku bisa cerita sama kamu saat itu.”
“Baik-baik ya di Solo.” Aku menepuk bahunya, rasa perih makin menjalar di hatiku. “Belajar yang rajin.”
Ia mengangguk, sekali tersenyum damai. “Iya. Kan udah ada yang memotivasi gue selama ini.”
“Sering-sering kabar-kabarin aku, ya.”
“Pasti.” Setelah itu Dika pergi meninggalkan kelas, menuju ruang TU untuk mengurus surat kepindahannya. Kembali lagi, aku terpekur hampa sendirian di kelas. Hari masih pagi, sekolah masih sepi. Tapi aku sudah menangis sendiri. 

~THE END~

Jumat, 08 Maret 2013

MY BEST FRIEND (Part 2)

Entah bagaimana selanjutnya aku memulai persahabatan dengan Dika. Semua benakku terasa salah. Dika mencoba mulai terbuka denganku.
Semenjak hari itu aku disuruh oleh Pak Riko untuk tetap duduk sebangku bersama Dika. Disaat anak-anak lain berpindah-pindah sesuai rotasi meja, aku tetap duduk di bangku yang sama, di baris belakang bersama Dika. Hari demi hari, minggu demi minggu, aku mengajari Dika semua materi pelajaran. Menyikutnya agar ia tetap terjaga saat guru sedang menerangkan di depan kelas. Memastikan bahwa lembar jawabannya terisi saat ulangan. Bahkan hingga mengirimi dia SMS setiap malam agar ia tidak lupa untuk membawa seluruh buku pelajaran sesuai jadwal. Selama itu juga, aku mulai memahami karakternya. Dika bukanlah anak yang bodoh—sebaliknya, menurutku ia sangat pintar. Pada awalnya aku menduga bahwa mengajarinya materi pelajaran akan menuntutku kesabaran yang berlebih, tapi aku salah. Ia dengan cepat menyerap semua materi yang aku jelaskan, dan bahkan aku mulai ragu bahwa ia butuh seorang tutor sebaya untuk mengajarinya. Yang ia butuhkan hanya niat dan motivasi untuk bersekolah dengan benar. Berbagai pertanyaan mulai muncul di dalam benakku:
  1. Mengapa anak sepintar dia sangat malas belajar?
  2. Mengapa ia selalu terlihat mengantuk sepanjang hari?
  3. Mengapa ia sampai tidak perduli dengan nilainya—bahkan sampai bisa cuek tidur saat ulangan? 
Keluargku,” ujarnya mendadak suatu hari, tatkala aku meminjamkannya buku catatan biologi. “Hmm, apa itu istilahnya? Ah, iya. Keluargaku disfungsional.”
Disfungsional. Bahkan pemilihan kata-katanya terlalu intelek untuk ukuran anak yang dicap ‘bodoh’.
Disfungsional gimana maksudmu?” tanyaku.
Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Abangku, umurnya lima belas tahun lebih tua. Dia nggak pernah ada di rumah. Ada aja alasannya, nginep di rumah temanlah, ngerjain tugas kuliahlah...” Didim berhenti sejenak, seperti menimbang-nimbang apakah ia mau lanjut bercerita soal kehidupan pribadinya kepadaku. “Kalo abangku aja umurnya udah segitu, kamu kebayang gak umur orangtuaku seberapa? Ibuku udah tua, tinggal nunggu beberapa tahun lagi buat pensiun, tapi dia gila kerja banget. Sedangkan ayah ...” Ia kembali terdiam.
Ayahmu kenapa?”
Aku nggak akur sama ayah.” Ia menghela napas. “Semenjak abangku bertingkah kayak begitu, entah kenapa ayah jadi suka paranoid sama aku. Aku pulang sore sedikit, pasti langsung dituduh macam-macam. Keluyuranlah, main-mainlah, malah sampai menduga aku pemakai narkoba.”
Tapi, kamu enggak...” aku terdiam sejenak, ragu ingin meneruskan, “kamu enggak pakai narkoba kan, Dik?”
Ya enggak, lah, Rik.” Dika malah tertawa kecil atas tuduhan itu. “Aku mungkin tidur nyaris setiap saat, tapi aku bukannya nge-fly atau high begitu.”
Terus, kenapa kamu sering banget ketiduran di kelas?”
Karena aku memang selalu begadang.” Dika mulai membuka buku catatan biologiku dan menyalin isinya, seraya meneruskan, “Ayahku nggak bekerja alias pengangguran. Ibuku pulang kerja di atas jam sepuluh malam hampir setiap hari. Ayah, entah kenapa, selalu udah tidur saat itu. Aneh sih—bukannya biasanya suami dan istri saling melengkapi ya? Tapi, ya begitulah ayahku. Akhirnya, akulah yang selalu nungguin ibu pulang.”
Mendadak aku merasa semua sikap Dika masuk akal. Keluarganya memang berantakan. Ibunya yang bekerja terlalu keras hingga melupakan keluarganya, ayahnya yang paranoid dan nampaknya juga kurang akur dengan ibunya, hingga kakaknya yang tidak pernah ada di rumah. Wajar kalau Dika menjadi tidak termotivasi untuk sekolah, karena bahkan keluarganya pun tidak berada di belakangnya memberikan support dan ini juga membuktikan bahwa dugaanku benar, yang ia butuhkan bukanlah tutor, tapi semangat dan dukungan untuk berprestasi.
Dik,” aku memulai pembicaraan lagi, “kamu jangan males-males sekolah, yaa.”
Dika menaikkan alis. “Kenapa?”
Yaaah ... setidaknya, harus ada satu orang yang benerlah di keluarga kamu. Kalau abangmu enggak bisa, setidaknya ya elo.”
Dika tidak merespon apa pun selain tersenyum tipis. Aku tidak ingat persisnya kapan penggalan dialog itu terjadi, tapi yang jelas, semenjak itu perlahan-lahan prestasi sekolah Dika berangsur-angsur membaik. Walau masih tetap dengan ciri khas penampilannya yang berantakan, tak pernah kulihat lagi ia tertidur saat pelajaran. Tugas dan PR selalu ia kumpulkan. Bahkan tak jarang, nilai ulangannya lebih tinggi dibanding nilai ulanganku. Saat kenaikan kelas, ia masuk sepuluh besar. Pak Riko tidak henti-hentinya berterimakasih kepadaku yang dianggapnya telah sukses membimbing Dika ke jalan yang benar. 
Rika,” panggilnya saat pembagian raport, seraya menatap papan tulis yang berisi daftar nama-nama siswa yang masuk sepuluh besar. 
Ya?” responku, acuh tak acuh.
Semoga kelas dua kita sekelas lagi, ya.” Ia nyengir lebar. Aku terbengong-bengong. Sama sekali tak menyangka ia bisa berharap seperti itu. 


Nah, bagaimana kelanjutan ceritanya? Masih penasaran, bukan? Terus ikutin lagi yaah

Jumat, 01 Maret 2013

MY BEST FRIEND (Part 1)

Malam yang indah, bagiku. Disusul dengan dentingan lagu Listen-nya Byonce, menandakan sebuah SMS masuk. Aku berjalan menuju kasurku dan meraih ponsel. Kemudian, kubaca isi SMS tersebut.
Rik, ibunya Dika meninggal. Di makamkan di Semarang hari ini.”
Begitulah kira-kira SMS yang dikirimkan oleh Vino. Meninggal? Malam yang indah menjadi malam yang penuh kabut rasanya. Selanjutnya, bagaikan kejapan mata, aku langsung menghubungi seluruh teman-temanku, memberitahukan kabar meninggalnya ibu Dika. Tapi apa yang aku dapat bukanlah sesuatu yang aku harapkan.
Iya Rik, aku sudah tahu. Kemarin malam meninggalnya,” ujar Siska saat aku menghubunginya.
Ibu Dika emang udah sakit sejak awal semester ini, Rik. Sakit stroke, katanya.” Rizka berkata demikian saat aku meneleponnya.
Dika nggak masuk dari kemarin gara-gara harus ke Solo, Rik.” Dan itu adalah respon dari Reza, teman sekelasku yang terakhir kukabari.
Aneh. Mengapa hanya aku seorang yang nampaknya belum tahu apa-apa akan masalah ini? Bahkan Siska mengatakan bahwa ayah Dika meninggal kemarin malam. Ada apa ini? Semua orang sudah tahu tapi aku, yang merupakan sahabat Dika, menjadi orang yang paling terakhir tahu akan kabar ini? Seperti orang kerasukan, aku langsung mengetik SMS secepatnya kepada Dika. Terkirim. Tidak dibalas. Kukirim lagi untuk kedua kalinya. Tiga kali. Masih tidak dibalas. Aku telepon, kudengar nada tersambung, lalu terputus. Kucoba lagi, tapi tetap tidak dijawab. Dika masih sengaja tidak mau berkomunikasi denganku. Apa yang salah? Rasanya aku ingin berteriak. Setelah nyaris satu semester ini ia menghindariku terus, ogah-ogahan berbicara denganku, bahkan sengaja menukar bangkunya sehingga tidak lagi bersebelahan denganku, ia masih tidak mau menghubungi aku di saat-saat seperti ini? Aku terpekur. Hampa. Saat itu, waktu bagai berputar balik. 
*----*
Dua tahun yang lalu ..
Semua ini berawal semenjak aku menginjakkan kaki di kelas 1 SMP. Masih tenggelam dalam euforia, aku masuk ke kelas baruku dengan penuh semangat. Sindrom, karena statusku sekarang adalah anak putih-biru, bukan lagi putih-merah seperti dulu. Tapi euforiaku mendadak lenyap ketika setelah dua minggu masuk sekolah, denah bangku mengharuskanku duduk di deretan paling belakang, bersama seorang cowok berantakan yang kerjaannya hanya tidur saja di kelas. “Dika.” Sesingkat itulah ia memperkenalkan dirinya kepadaku. Pagi-pagi datang ke sekolah sudah dengan seragam yang keluar, sepatu diinjak, dan membawa barang seadanya. Tapi, di sinilah sebenarnya persahabatanku dengan Dika dimulai.
Aku ingat hari itu, hari di mana sepulang sekolah Dika dipanggil Pak Riko untuk berbicara empat mata dengannya. Di tengah jalan pulang menuju gerbang, mendadak aku dicegat oleh Siska—yang juga teman sekelasku— dan disuruh menemui Pak Riko di ruang guru. Aku sempat merasa bingung kenapa aku harus ikut dipanggil segala. Kalau Dika, aku maklum. Kalau aku, yang notabenenya termasuk anak ‘baik-baik’ di kelas, apa masalahnya? Semuanya langsung terjawab tatkala aku masuk dan duduk di samping Dika saat itu juga. 
Rika, bapak harap kamu bisa membantu Dika dalam pelajaran, ya.”
Sa-saya, pak?” Aku langsung tergagap karena kaget.
Pak Riko mengangguk yakin.
Bapak lihat keseluruhan nilai kamu baik dan kamu rajin mengerjakan tugas. Bapak harap kamu bisa membantu Dika supaya nilai-nilainya bisa, ehm, terisi semua.” 
Terisi semua—itu artinya nilai Dika semuanya kosong. Untuk urusan pelajaran, Dika memang parah. Dua minggu sebangku dengannya, tak pernah kulihat ia mengumpulkan PR satu kali pun. Demikian juga saat ulangan. Ia tidur bahkan saat sebelum soal dibagikan, dan ketika waktu ulangan selesai, ia dengan santainya mengumpulkan lembar jawaban yang tidak berisi jawaban itu. 
Kamu bisa mengajari Dika kan, Rika?” Suara Pak Riko menarikku kembali ke alam nyata. Kalau boleh jujur, rasanya aku malaaaaaaasssssss sekali berurusan dengan manusia asal-asalan ini. Tapi, kurasa reaksi penolakanku kepada Pak Riko juga bukan merupakan tindakan yang bijaksana. Wali kelas mana sih, yang mau melihat anak didiknya gagal? Maka, dengan berat hati, aku pun mengangguk. 
Entah bagaimana selanjutnya aku memulai persahabatan dengan Dika. Semua benakku terasa salah. Dika mencoba mulai terbuka denganku.


Nah, bagaimana kelanjutan ceritanya? Masih penasaran? Terus ikutin yaah


Pages

Explore and Discover with Finano Journalis ! :)