Entah bagaimana selanjutnya aku memulai persahabatan dengan Dika.
Semua benakku terasa salah. Dika mencoba mulai terbuka denganku.
Semenjak hari itu aku disuruh oleh Pak Riko untuk tetap duduk
sebangku bersama Dika. Disaat anak-anak lain berpindah-pindah sesuai
rotasi meja, aku tetap duduk di bangku yang sama, di baris belakang
bersama Dika. Hari demi hari, minggu demi minggu, aku mengajari Dika
semua materi pelajaran. Menyikutnya agar ia tetap terjaga saat guru
sedang menerangkan di depan kelas. Memastikan bahwa lembar jawabannya
terisi saat ulangan. Bahkan hingga mengirimi dia SMS setiap malam
agar ia tidak lupa untuk membawa seluruh buku pelajaran sesuai
jadwal. Selama itu juga, aku mulai memahami karakternya. Dika
bukanlah anak yang bodoh—sebaliknya, menurutku ia sangat pintar.
Pada awalnya aku menduga bahwa mengajarinya materi pelajaran akan
menuntutku kesabaran yang berlebih, tapi aku salah. Ia dengan cepat
menyerap semua materi yang aku jelaskan, dan bahkan aku mulai ragu
bahwa ia butuh seorang tutor sebaya untuk mengajarinya. Yang ia
butuhkan hanya niat dan motivasi untuk bersekolah dengan benar.
Berbagai pertanyaan mulai muncul di dalam benakku:
- Mengapa anak sepintar dia sangat malas belajar?
- Mengapa ia selalu terlihat mengantuk sepanjang hari?
- Mengapa ia sampai tidak perduli dengan nilainya—bahkan sampai bisa cuek tidur saat ulangan?
“Keluargku,” ujarnya mendadak suatu hari, tatkala aku
meminjamkannya buku catatan biologi. “Hmm, apa itu istilahnya?
Ah, iya. Keluargaku disfungsional.”
Disfungsional. Bahkan pemilihan kata-katanya terlalu intelek untuk
ukuran anak yang dicap ‘bodoh’.
“Disfungsional gimana maksudmu?” tanyaku.
“Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Abangku, umurnya lima
belas tahun lebih tua. Dia nggak pernah ada di rumah. Ada aja
alasannya, nginep di rumah temanlah, ngerjain tugas kuliahlah...”
Didim berhenti sejenak, seperti menimbang-nimbang apakah ia mau
lanjut bercerita soal kehidupan pribadinya kepadaku. “Kalo
abangku aja umurnya udah segitu, kamu kebayang gak umur orangtuaku
seberapa? Ibuku udah tua, tinggal nunggu beberapa tahun lagi buat
pensiun, tapi dia gila kerja banget. Sedangkan ayah ...” Ia
kembali terdiam.
“Ayahmu kenapa?”
“Aku nggak akur sama ayah.” Ia menghela napas. “Semenjak
abangku bertingkah kayak begitu, entah kenapa ayah jadi suka paranoid
sama aku. Aku pulang sore sedikit, pasti langsung dituduh
macam-macam. Keluyuranlah, main-mainlah, malah sampai menduga aku
pemakai narkoba.”
“Tapi, kamu enggak...” aku terdiam sejenak, ragu ingin
meneruskan, “kamu enggak pakai narkoba kan, Dik?”
“Ya enggak, lah, Rik.” Dika malah tertawa kecil atas
tuduhan itu. “Aku mungkin tidur nyaris setiap saat, tapi aku
bukannya nge-fly atau high begitu.”
“Terus, kenapa kamu sering banget ketiduran di kelas?”
“Karena aku memang selalu begadang.” Dika mulai membuka
buku catatan biologiku dan menyalin isinya, seraya meneruskan,
“Ayahku nggak bekerja alias pengangguran. Ibuku pulang kerja di
atas jam sepuluh malam hampir setiap hari. Ayah, entah kenapa, selalu
udah tidur saat itu. Aneh sih—bukannya biasanya suami dan istri
saling melengkapi ya? Tapi, ya begitulah ayahku. Akhirnya, akulah
yang selalu nungguin ibu pulang.”
Mendadak aku merasa semua sikap Dika masuk akal. Keluarganya memang
berantakan. Ibunya yang bekerja terlalu keras hingga melupakan
keluarganya, ayahnya yang paranoid dan nampaknya juga kurang akur
dengan ibunya, hingga kakaknya yang tidak pernah ada di rumah. Wajar
kalau Dika menjadi tidak termotivasi untuk sekolah, karena bahkan
keluarganya pun tidak berada di belakangnya memberikan support
dan ini juga membuktikan bahwa dugaanku benar, yang ia butuhkan
bukanlah tutor, tapi semangat dan dukungan untuk berprestasi.
“Dik,” aku memulai pembicaraan lagi, “kamu jangan
males-males sekolah, yaa.”
Dika menaikkan alis. “Kenapa?”
“Yaaah ... setidaknya, harus ada satu orang yang benerlah di
keluarga kamu. Kalau abangmu enggak bisa, setidaknya ya elo.”
Dika tidak merespon apa pun selain tersenyum tipis. Aku tidak ingat
persisnya kapan penggalan dialog itu terjadi, tapi yang jelas,
semenjak itu perlahan-lahan prestasi sekolah Dika berangsur-angsur
membaik. Walau masih tetap dengan ciri khas penampilannya yang
berantakan, tak pernah kulihat lagi ia tertidur saat pelajaran. Tugas
dan PR selalu ia kumpulkan. Bahkan tak jarang, nilai ulangannya lebih
tinggi dibanding nilai ulanganku. Saat kenaikan kelas, ia masuk
sepuluh besar. Pak Riko tidak henti-hentinya berterimakasih kepadaku
yang dianggapnya telah sukses membimbing Dika ke jalan yang benar.
“Rika,” panggilnya saat pembagian raport, seraya menatap
papan tulis yang berisi daftar nama-nama siswa yang masuk sepuluh
besar.
“Ya?” responku, acuh tak acuh.
“Semoga kelas dua kita sekelas lagi, ya.” Ia nyengir
lebar. Aku terbengong-bengong. Sama sekali tak menyangka ia bisa
berharap seperti itu.
Nah, bagaimana kelanjutan ceritanya? Masih penasaran, bukan? Terus
ikutin lagi yaah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar