Jumat, 08 Maret 2013

MY BEST FRIEND (Part 2)

Entah bagaimana selanjutnya aku memulai persahabatan dengan Dika. Semua benakku terasa salah. Dika mencoba mulai terbuka denganku.
Semenjak hari itu aku disuruh oleh Pak Riko untuk tetap duduk sebangku bersama Dika. Disaat anak-anak lain berpindah-pindah sesuai rotasi meja, aku tetap duduk di bangku yang sama, di baris belakang bersama Dika. Hari demi hari, minggu demi minggu, aku mengajari Dika semua materi pelajaran. Menyikutnya agar ia tetap terjaga saat guru sedang menerangkan di depan kelas. Memastikan bahwa lembar jawabannya terisi saat ulangan. Bahkan hingga mengirimi dia SMS setiap malam agar ia tidak lupa untuk membawa seluruh buku pelajaran sesuai jadwal. Selama itu juga, aku mulai memahami karakternya. Dika bukanlah anak yang bodoh—sebaliknya, menurutku ia sangat pintar. Pada awalnya aku menduga bahwa mengajarinya materi pelajaran akan menuntutku kesabaran yang berlebih, tapi aku salah. Ia dengan cepat menyerap semua materi yang aku jelaskan, dan bahkan aku mulai ragu bahwa ia butuh seorang tutor sebaya untuk mengajarinya. Yang ia butuhkan hanya niat dan motivasi untuk bersekolah dengan benar. Berbagai pertanyaan mulai muncul di dalam benakku:
  1. Mengapa anak sepintar dia sangat malas belajar?
  2. Mengapa ia selalu terlihat mengantuk sepanjang hari?
  3. Mengapa ia sampai tidak perduli dengan nilainya—bahkan sampai bisa cuek tidur saat ulangan? 
Keluargku,” ujarnya mendadak suatu hari, tatkala aku meminjamkannya buku catatan biologi. “Hmm, apa itu istilahnya? Ah, iya. Keluargaku disfungsional.”
Disfungsional. Bahkan pemilihan kata-katanya terlalu intelek untuk ukuran anak yang dicap ‘bodoh’.
Disfungsional gimana maksudmu?” tanyaku.
Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Abangku, umurnya lima belas tahun lebih tua. Dia nggak pernah ada di rumah. Ada aja alasannya, nginep di rumah temanlah, ngerjain tugas kuliahlah...” Didim berhenti sejenak, seperti menimbang-nimbang apakah ia mau lanjut bercerita soal kehidupan pribadinya kepadaku. “Kalo abangku aja umurnya udah segitu, kamu kebayang gak umur orangtuaku seberapa? Ibuku udah tua, tinggal nunggu beberapa tahun lagi buat pensiun, tapi dia gila kerja banget. Sedangkan ayah ...” Ia kembali terdiam.
Ayahmu kenapa?”
Aku nggak akur sama ayah.” Ia menghela napas. “Semenjak abangku bertingkah kayak begitu, entah kenapa ayah jadi suka paranoid sama aku. Aku pulang sore sedikit, pasti langsung dituduh macam-macam. Keluyuranlah, main-mainlah, malah sampai menduga aku pemakai narkoba.”
Tapi, kamu enggak...” aku terdiam sejenak, ragu ingin meneruskan, “kamu enggak pakai narkoba kan, Dik?”
Ya enggak, lah, Rik.” Dika malah tertawa kecil atas tuduhan itu. “Aku mungkin tidur nyaris setiap saat, tapi aku bukannya nge-fly atau high begitu.”
Terus, kenapa kamu sering banget ketiduran di kelas?”
Karena aku memang selalu begadang.” Dika mulai membuka buku catatan biologiku dan menyalin isinya, seraya meneruskan, “Ayahku nggak bekerja alias pengangguran. Ibuku pulang kerja di atas jam sepuluh malam hampir setiap hari. Ayah, entah kenapa, selalu udah tidur saat itu. Aneh sih—bukannya biasanya suami dan istri saling melengkapi ya? Tapi, ya begitulah ayahku. Akhirnya, akulah yang selalu nungguin ibu pulang.”
Mendadak aku merasa semua sikap Dika masuk akal. Keluarganya memang berantakan. Ibunya yang bekerja terlalu keras hingga melupakan keluarganya, ayahnya yang paranoid dan nampaknya juga kurang akur dengan ibunya, hingga kakaknya yang tidak pernah ada di rumah. Wajar kalau Dika menjadi tidak termotivasi untuk sekolah, karena bahkan keluarganya pun tidak berada di belakangnya memberikan support dan ini juga membuktikan bahwa dugaanku benar, yang ia butuhkan bukanlah tutor, tapi semangat dan dukungan untuk berprestasi.
Dik,” aku memulai pembicaraan lagi, “kamu jangan males-males sekolah, yaa.”
Dika menaikkan alis. “Kenapa?”
Yaaah ... setidaknya, harus ada satu orang yang benerlah di keluarga kamu. Kalau abangmu enggak bisa, setidaknya ya elo.”
Dika tidak merespon apa pun selain tersenyum tipis. Aku tidak ingat persisnya kapan penggalan dialog itu terjadi, tapi yang jelas, semenjak itu perlahan-lahan prestasi sekolah Dika berangsur-angsur membaik. Walau masih tetap dengan ciri khas penampilannya yang berantakan, tak pernah kulihat lagi ia tertidur saat pelajaran. Tugas dan PR selalu ia kumpulkan. Bahkan tak jarang, nilai ulangannya lebih tinggi dibanding nilai ulanganku. Saat kenaikan kelas, ia masuk sepuluh besar. Pak Riko tidak henti-hentinya berterimakasih kepadaku yang dianggapnya telah sukses membimbing Dika ke jalan yang benar. 
Rika,” panggilnya saat pembagian raport, seraya menatap papan tulis yang berisi daftar nama-nama siswa yang masuk sepuluh besar. 
Ya?” responku, acuh tak acuh.
Semoga kelas dua kita sekelas lagi, ya.” Ia nyengir lebar. Aku terbengong-bengong. Sama sekali tak menyangka ia bisa berharap seperti itu. 


Nah, bagaimana kelanjutan ceritanya? Masih penasaran, bukan? Terus ikutin lagi yaah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages

Explore and Discover with Finano Journalis ! :)