Aku tidak tahu ini kebetulan, takdir, atau apa, tapi yang jelas kelas
dua aku satu kelas lagi dengan Dika. Dan walaupun sebenarnya masa
‘tutorial’-ku dengannya sudah berakhir—setidaknya saat ia
menunjukkan peningkatan prestasi—kami akhirnya tetap duduk sebangku
dan berteman dekat. Banyak orang-orang meledek kami dan menyebut kami
berdua pacaran, tapi tidak, kami tidak berpacaran. Kami hanya
bersahabat dekat, seperti kakak dan adik. Namun, di kelas tiga,
mendadak semuanya berubah. Sangat berubah. Diawali dengan
kesibukanku mengikuti seleksi olimpiade fisika di penghujung tahun
keduaku, yang berarti agendaku akan terus dipenuhi dengan karantina
dan lomba hingga akhir semester awal kelas tiga. Di saat-saat seperti
itu aku mulai merasa bahwa pertemananku dengan Dika mulai berjarak.
Walaupun masih tetap sekelas, namun frekuensi pertemuan kami di
sekolah menurun drastis, mengingat hampir setiap hari aku terkena
dispensasi untuk persiapan olimpiade.
Kalaupun aku sedang masuk sekolah, entah mengapa Dika juga terkesan
ogah-ogahan berbicara denganku. Rasanya hubungan kami kembali ke
titik awal lagi, saat ia dan aku masih saling diam satu sama lain.
Puncaknya, saat aku masuk sekolah setelah melalui seminggu masa
karantina, aku menemukan bahwa Risma lah yang mengisi posisi bangku
di sampingku, bukan lagi Dika. Ia dengan seenaknya menyuruh Risma
bertukar posisi dengannya agar ia tidak lagi sebangku denganku.
Marah, kesal, heran, semuanya bercampur menjadi satu saat itu. Tak
tahan, aku melabraknya saat istirahat makan siang.
“Maumu apa sih, Dik?” tanyaku tanpa basa-basi saat
menemukan ia di kantin. Dika tidak menatapku, ia malah tetap fokus
memakan mie ayamnya.
“Dika!!!” Aku menggoyangkan bahunya, agak kasar. “Maksudmu
apa? Tahu-tahu pindah kursi begitu?” Ia melirikku dengan
tatapan terganggu.
“Dua tahun kita duduk sebangku. Aku butuh variasi teman.”
“Apa?” Aku tak bisa mempercayai pendengaranku saat itu.
“Singkatnya, aku bosen aja sebangku terus sama kamu, Rika.
Sesimpel itu.”
Aku terlalu kaget untuk bisa bereaksi, sehingga aku sempat terdiam
mematung selama beberapa detik. Mendadak sebuah logika sederhana
terbentang di otakku, Dika ya tetap Dika. Seorang anak yang bandel,
tidak perduli seberapa eratnya persahabatanku dengannya.
Aku langsung balik badan dan berlari dari kantin. Berlari sejauh
mungkin dari Dika, karena aku tidak ingin ia menyaksikan air mataku
yang mulai tumpah.
*----*
Kembali lagi ke hari ini.
Sudah tiga hari Dika tidak masuk sekolah dan sudah sehari semenjak
SMS Vino yang mengabari tentang meninggalnya ibu Dika. Walaupun
hubungan kami sudah tidak seakrab dulu lagi, bohong kalau aku bilang
aku tidak peduli dengan berita duka tersebut. Apalagi ini ada sangkut
pautnya dengan ibu dari sahabatku—mantan sahabatku.Tapi, alangkah
terkejutnya aku atas apa yang aku temukan di kelas yang masih kosong
pagi ini.
Muhammad Dika Faresta, ada di kelas—dan ia duduk di sebelah
bangkuku.
“Dika?” tanyaku kaget. “Kamu masuk? Kok kamu pakai baju
bebas?” Dika menatapku dengan tatapan sedih.
“Aku bukan mau masuk sekolah, Rik. Aku mau pamitan sama mengurus
surat pindah.”
“Pi-pindah?” Aku tergagap. “Pindah ke mana?”
“Ke Solo.” Telapak tanganku langsung terasa dingin saat
mendengar itu. Namun, kebalikan dengan telapak tanganku yang dingin,
aku merasa bahwa mataku mulai panas dan berair.
“Kenapa? Kok mendadak banget?” tanyaku, mulai dengan artikulasi
terbata-bata karena menahan tangis.
“Nggak mendadak, sebetulnya.” Pandangan mata Dika menerawang
jauh. “Sebelumnya, aku mau minta maaf, Rik.”
“Minta maaf?”
“Iya. Karena sudah menyakiti kamu waktu itu, waktu aku mendadak
tukar bangku dengan Risma. Tapi semua itu aku lakukan, karena aku
nggak tahan harus dekat-dekat sama kamu, saat aku bahkan nggak bisa
cerita apa pun ke kamu.”
“Cerita apa? Apa yang selalu kamu sembunyikan selama ini?”
“Bokap divonis kangker otak semenjak awal kita masuk kelas tiga,
Rik.” Dika berhenti sejenak, menghela napas, berat. “Itu sangat
berat buat aku, buat keluarga aku. Kamu tahu kan gimana kondisi
keluargaku. Abangku masih tetap saja nggak pulang-pulang walau udah
tahu bahwa ibu sakit. Ayah juga bukannya berusaha tegar dan merawat
ibu, tapi malah panik sendiri dan menambah keruh suasana. Praktis
yang merawat ibu cuma aku dan pamaku, adiknya ibu.”
Dika terdiam sejenak, seperti menahan emosinya. Hening menyelimuti
kami berdua meski hanya sesaat.
“Saat itu, aku ingin sekali cerita ke kamu. Seperti waktu kelas
satu, pertama kalinya aku cerita ke kamu tentang kondisi keluargaku
yang berantakan. Tapi kamunya lagi sibuk dengan olimpiade fisika, dan
kamu kelihatan capek sekali dengan kegiatan itu. Makanya aku nggak
cerita ke kamu, aku takut menambah bebanmu.”
Pertahananku tumpas sudah. Air mata mulai jatuh membasahi pipiku.
Sahabat macam apa aku ini? Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri.
Aku bahkan berani menuduh Dika macam-macam saat ia mulai menjauh
dariku. Aku ini benar-benar bodoh!
Dika mengalihkan pandangannya ke lantai, menunduk.
“Jangan nangis, Rik,” ujarnya pelan. “Kamu nggak tahu seberapa
besar rasa bersalahku sama kamu, jadi tolong, jangan nangis. Itu cuma
membuat perasaanku makin sedih.”
“O-oke.” Tersendat-sendat, aku berusaha meredakan tangisku.
“Ja-jadi … kenapa? Kenapa kamu harus pindah?”
“Pas ibu divonis sakit, keluargaku makin nggak jelas. Abang yang
nggak pulang-pulang, ayah yang nggak bisa diandalkan, ibu yang
kondisinya makin buruk dari hari ke hari … Akhirnya keluarga
besarku menimbang-nimbang bahwa aku pindah saja ke Solo, biar aku
diasuh sama nenekku di sana.”
“Harus, ya?” Aku bertanya pelan, sakit. “Kamu harus pindah?”
Dika mengangguk lemah. “Sekarang ibu udah nggak ada, Rik.
Keluargaku udah benar-benar kehilangan ‘tiang’ penyangganya. Aku
udah nggak punya siapa-siapa lagi untuk diandalkan di sini.”
“Kamu ...” Aku terdiam, kehabisan kata-kata. “Kamu seharusnya
cerita ke aku. Bodoh!”
Dika tersenyum pahit. “Kamu nggak tahu betapa aku sangat berharap
bahwa aku bisa cerita sama kamu saat itu.”
“Baik-baik ya di Solo.” Aku menepuk bahunya, rasa perih makin
menjalar di hatiku. “Belajar yang rajin.”
Ia mengangguk, sekali tersenyum damai. “Iya. Kan udah ada yang
memotivasi gue selama ini.”
“Sering-sering kabar-kabarin aku, ya.”
“Pasti.” Setelah itu Dika pergi meninggalkan kelas, menuju ruang
TU untuk mengurus surat kepindahannya. Kembali lagi, aku terpekur
hampa sendirian di kelas. Hari masih pagi, sekolah masih sepi. Tapi
aku sudah menangis sendiri.
~THE
END~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar