Selasa, 12 Maret 2013

MY BEST FRIEND (Part 3) - The End

Aku tidak tahu ini kebetulan, takdir, atau apa, tapi yang jelas kelas dua aku satu kelas lagi dengan Dika. Dan walaupun sebenarnya masa ‘tutorial’-ku dengannya sudah berakhir—setidaknya saat ia menunjukkan peningkatan prestasi—kami akhirnya tetap duduk sebangku dan berteman dekat. Banyak orang-orang meledek kami dan menyebut kami berdua pacaran, tapi tidak, kami tidak berpacaran. Kami hanya bersahabat dekat, seperti kakak dan adik. Namun, di kelas tiga, mendadak semuanya berubah. Sangat berubah. Diawali dengan kesibukanku mengikuti seleksi olimpiade fisika di penghujung tahun keduaku, yang berarti agendaku akan terus dipenuhi dengan karantina dan lomba hingga akhir semester awal kelas tiga. Di saat-saat seperti itu aku mulai merasa bahwa pertemananku dengan Dika mulai berjarak. Walaupun masih tetap sekelas, namun frekuensi pertemuan kami di sekolah menurun drastis, mengingat hampir setiap hari aku terkena dispensasi untuk persiapan olimpiade.
Kalaupun aku sedang masuk sekolah, entah mengapa Dika juga terkesan ogah-ogahan berbicara denganku. Rasanya hubungan kami kembali ke titik awal lagi, saat ia dan aku masih saling diam satu sama lain. Puncaknya, saat aku masuk sekolah setelah melalui seminggu masa karantina, aku menemukan bahwa Risma lah yang mengisi posisi bangku di sampingku, bukan lagi Dika. Ia dengan seenaknya menyuruh Risma bertukar posisi dengannya agar ia tidak lagi sebangku denganku.
Marah, kesal, heran, semuanya bercampur menjadi satu saat itu. Tak tahan, aku melabraknya saat istirahat makan siang.
Maumu apa sih, Dik?” tanyaku tanpa basa-basi saat menemukan ia di kantin. Dika tidak menatapku, ia malah tetap fokus memakan mie ayamnya.
Dika!!!” Aku menggoyangkan bahunya, agak kasar. “Maksudmu apa? Tahu-tahu pindah kursi begitu?” Ia melirikku dengan tatapan terganggu.
Dua tahun kita duduk sebangku. Aku butuh variasi teman.” 
Apa?” Aku tak bisa mempercayai pendengaranku saat itu.
Singkatnya, aku bosen aja sebangku terus sama kamu, Rika. Sesimpel itu.” 
Aku terlalu kaget untuk bisa bereaksi, sehingga aku sempat terdiam mematung selama beberapa detik. Mendadak sebuah logika sederhana terbentang di otakku, Dika ya tetap Dika. Seorang anak yang bandel, tidak perduli seberapa eratnya persahabatanku dengannya.
Aku langsung balik badan dan berlari dari kantin. Berlari sejauh mungkin dari Dika, karena aku tidak ingin ia menyaksikan air mataku yang mulai tumpah. 
*----*
Kembali lagi ke hari ini.
Sudah tiga hari Dika tidak masuk sekolah dan sudah sehari semenjak SMS Vino yang mengabari tentang meninggalnya ibu Dika. Walaupun hubungan kami sudah tidak seakrab dulu lagi, bohong kalau aku bilang aku tidak peduli dengan berita duka tersebut. Apalagi ini ada sangkut pautnya dengan ibu dari sahabatku—mantan sahabatku.Tapi, alangkah terkejutnya aku atas apa yang aku temukan di kelas yang masih kosong pagi ini.
Muhammad Dika Faresta, ada di kelas—dan ia duduk di sebelah bangkuku.
“Dika?” tanyaku kaget. “Kamu masuk? Kok kamu pakai baju bebas?” Dika menatapku dengan tatapan sedih.
“Aku bukan mau masuk sekolah, Rik. Aku mau pamitan sama mengurus surat pindah.” 
“Pi-pindah?” Aku tergagap. “Pindah ke mana?”
“Ke Solo.” Telapak tanganku langsung terasa dingin saat mendengar itu. Namun, kebalikan dengan telapak tanganku yang dingin, aku merasa bahwa mataku mulai panas dan berair.
“Kenapa? Kok mendadak banget?” tanyaku, mulai dengan artikulasi terbata-bata karena menahan tangis.
“Nggak mendadak, sebetulnya.” Pandangan mata Dika menerawang jauh. “Sebelumnya, aku mau minta maaf, Rik.”
“Minta maaf?”
“Iya. Karena sudah menyakiti kamu waktu itu, waktu aku mendadak tukar bangku dengan Risma. Tapi semua itu aku lakukan, karena aku nggak tahan harus dekat-dekat sama kamu, saat aku bahkan nggak bisa cerita apa pun ke kamu.”
“Cerita apa? Apa yang selalu kamu sembunyikan selama ini?”
“Bokap divonis kangker otak semenjak awal kita masuk kelas tiga, Rik.” Dika berhenti sejenak, menghela napas, berat. “Itu sangat berat buat aku, buat keluarga aku. Kamu tahu kan gimana kondisi keluargaku. Abangku masih tetap saja nggak pulang-pulang walau udah tahu bahwa ibu sakit. Ayah juga bukannya berusaha tegar dan merawat ibu, tapi malah panik sendiri dan menambah keruh suasana. Praktis yang merawat ibu cuma aku dan pamaku, adiknya ibu.”
Dika terdiam sejenak, seperti menahan emosinya. Hening menyelimuti kami berdua meski hanya sesaat. 
“Saat itu, aku ingin sekali cerita ke kamu. Seperti waktu kelas satu, pertama kalinya aku cerita ke kamu tentang kondisi keluargaku yang berantakan. Tapi kamunya lagi sibuk dengan olimpiade fisika, dan kamu kelihatan capek sekali dengan kegiatan itu. Makanya aku nggak cerita ke kamu, aku takut menambah bebanmu.”
Pertahananku tumpas sudah. Air mata mulai jatuh membasahi pipiku. Sahabat macam apa aku ini? Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Aku bahkan berani menuduh Dika macam-macam saat ia mulai menjauh dariku. Aku ini benar-benar bodoh!
Dika mengalihkan pandangannya ke lantai, menunduk.
“Jangan nangis, Rik,” ujarnya pelan. “Kamu nggak tahu seberapa besar rasa bersalahku sama kamu, jadi tolong, jangan nangis. Itu cuma membuat perasaanku makin sedih.”
“O-oke.” Tersendat-sendat, aku berusaha meredakan tangisku. “Ja-jadi … kenapa? Kenapa kamu harus pindah?” 
“Pas ibu divonis sakit, keluargaku makin nggak jelas. Abang yang nggak pulang-pulang, ayah yang nggak bisa diandalkan, ibu yang kondisinya makin buruk dari hari ke hari … Akhirnya keluarga besarku menimbang-nimbang bahwa aku pindah saja ke Solo, biar aku diasuh sama nenekku di sana.”
“Harus, ya?” Aku bertanya pelan, sakit. “Kamu harus pindah?”
Dika mengangguk lemah. “Sekarang ibu udah nggak ada, Rik. Keluargaku udah benar-benar kehilangan ‘tiang’ penyangganya. Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi untuk diandalkan di sini.”
“Kamu ...” Aku terdiam, kehabisan kata-kata. “Kamu seharusnya cerita ke aku. Bodoh!”
Dika tersenyum pahit. “Kamu nggak tahu betapa aku sangat berharap bahwa aku bisa cerita sama kamu saat itu.”
“Baik-baik ya di Solo.” Aku menepuk bahunya, rasa perih makin menjalar di hatiku. “Belajar yang rajin.”
Ia mengangguk, sekali tersenyum damai. “Iya. Kan udah ada yang memotivasi gue selama ini.”
“Sering-sering kabar-kabarin aku, ya.”
“Pasti.” Setelah itu Dika pergi meninggalkan kelas, menuju ruang TU untuk mengurus surat kepindahannya. Kembali lagi, aku terpekur hampa sendirian di kelas. Hari masih pagi, sekolah masih sepi. Tapi aku sudah menangis sendiri. 

~THE END~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages

Explore and Discover with Finano Journalis ! :)