Malam yang indah, bagiku. Disusul dengan dentingan lagu Listen-nya
Byonce, menandakan sebuah SMS masuk. Aku berjalan menuju kasurku dan
meraih ponsel. Kemudian, kubaca isi SMS tersebut.
“Rik, ibunya Dika meninggal. Di makamkan di Semarang hari
ini.”
Begitulah kira-kira SMS yang dikirimkan oleh Vino. Meninggal? Malam
yang indah menjadi malam yang penuh kabut rasanya. Selanjutnya,
bagaikan kejapan mata, aku langsung menghubungi seluruh
teman-temanku, memberitahukan kabar meninggalnya ibu Dika. Tapi apa
yang aku dapat bukanlah sesuatu yang aku harapkan.
“Iya Rik, aku sudah tahu. Kemarin malam meninggalnya,”
ujar Siska saat aku menghubunginya.
“Ibu Dika emang udah sakit sejak awal semester ini, Rik. Sakit
stroke, katanya.” Rizka berkata demikian saat aku meneleponnya.
“Dika nggak masuk dari kemarin gara-gara harus ke Solo, Rik.”
Dan itu adalah respon dari Reza, teman sekelasku yang terakhir
kukabari.
Aneh. Mengapa hanya aku seorang yang nampaknya belum tahu apa-apa
akan masalah ini? Bahkan Siska mengatakan bahwa ayah Dika meninggal
kemarin malam. Ada apa ini? Semua orang sudah tahu tapi aku, yang
merupakan sahabat Dika, menjadi orang yang paling terakhir tahu akan
kabar ini? Seperti orang kerasukan, aku langsung mengetik SMS
secepatnya kepada Dika. Terkirim. Tidak dibalas. Kukirim lagi untuk
kedua kalinya. Tiga kali. Masih tidak dibalas. Aku telepon, kudengar
nada tersambung, lalu terputus. Kucoba lagi, tapi tetap tidak
dijawab. Dika masih sengaja tidak mau berkomunikasi denganku. Apa
yang salah? Rasanya aku ingin berteriak. Setelah nyaris satu semester
ini ia menghindariku terus, ogah-ogahan berbicara denganku, bahkan
sengaja menukar bangkunya sehingga tidak lagi bersebelahan denganku,
ia masih tidak mau menghubungi aku di saat-saat seperti ini? Aku
terpekur. Hampa. Saat itu, waktu bagai berputar balik.
*----*
Dua tahun yang lalu ..
Semua ini berawal semenjak aku menginjakkan kaki di kelas 1 SMP.
Masih tenggelam dalam euforia, aku masuk ke kelas baruku dengan penuh
semangat. Sindrom, karena statusku sekarang adalah anak putih-biru,
bukan lagi putih-merah seperti dulu. Tapi euforiaku mendadak lenyap
ketika setelah dua minggu masuk sekolah, denah bangku mengharuskanku
duduk di deretan paling belakang, bersama seorang cowok berantakan
yang kerjaannya hanya tidur saja di kelas. “Dika.”
Sesingkat itulah ia memperkenalkan dirinya kepadaku. Pagi-pagi datang
ke sekolah sudah dengan seragam yang keluar, sepatu diinjak, dan
membawa barang seadanya. Tapi, di sinilah sebenarnya
persahabatanku dengan Dika dimulai.
Aku ingat hari itu, hari di mana sepulang sekolah Dika dipanggil Pak
Riko untuk berbicara empat mata dengannya. Di tengah jalan pulang
menuju gerbang, mendadak aku dicegat oleh Siska—yang juga teman
sekelasku— dan disuruh menemui Pak Riko di ruang guru. Aku sempat
merasa bingung kenapa aku harus ikut dipanggil segala. Kalau Dika,
aku maklum. Kalau aku, yang notabenenya termasuk anak ‘baik-baik’
di kelas, apa masalahnya? Semuanya langsung terjawab tatkala aku
masuk dan duduk di samping Dika saat itu juga.
“Rika, bapak harap kamu bisa membantu Dika dalam pelajaran, ya.”
“Sa-saya, pak?” Aku langsung tergagap karena kaget.
Pak Riko mengangguk yakin.
“Bapak lihat keseluruhan nilai kamu baik dan kamu rajin
mengerjakan tugas. Bapak harap kamu bisa membantu Dika supaya
nilai-nilainya bisa, ehm, terisi semua.”
Terisi semua—itu artinya nilai Dika semuanya kosong. Untuk urusan
pelajaran, Dika memang parah. Dua minggu sebangku dengannya, tak
pernah kulihat ia mengumpulkan PR satu kali pun. Demikian juga saat
ulangan. Ia tidur bahkan saat sebelum soal dibagikan, dan ketika
waktu ulangan selesai, ia dengan santainya mengumpulkan lembar
jawaban yang tidak berisi jawaban itu.
“Kamu bisa mengajari Dika kan, Rika?” Suara Pak Riko
menarikku kembali ke alam nyata. Kalau boleh jujur, rasanya aku
malaaaaaaasssssss sekali berurusan dengan manusia asal-asalan ini.
Tapi, kurasa reaksi penolakanku kepada Pak Riko juga bukan merupakan
tindakan yang bijaksana. Wali kelas mana sih, yang mau melihat anak
didiknya gagal? Maka, dengan berat hati, aku pun mengangguk.
Entah bagaimana selanjutnya aku memulai persahabatan dengan Dika.
Semua benakku terasa salah. Dika mencoba mulai terbuka denganku.
Nah, bagaimana kelanjutan ceritanya? Masih penasaran? Terus ikutin
yaah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar