Jumat, 01 Maret 2013

MY BEST FRIEND (Part 1)

Malam yang indah, bagiku. Disusul dengan dentingan lagu Listen-nya Byonce, menandakan sebuah SMS masuk. Aku berjalan menuju kasurku dan meraih ponsel. Kemudian, kubaca isi SMS tersebut.
Rik, ibunya Dika meninggal. Di makamkan di Semarang hari ini.”
Begitulah kira-kira SMS yang dikirimkan oleh Vino. Meninggal? Malam yang indah menjadi malam yang penuh kabut rasanya. Selanjutnya, bagaikan kejapan mata, aku langsung menghubungi seluruh teman-temanku, memberitahukan kabar meninggalnya ibu Dika. Tapi apa yang aku dapat bukanlah sesuatu yang aku harapkan.
Iya Rik, aku sudah tahu. Kemarin malam meninggalnya,” ujar Siska saat aku menghubunginya.
Ibu Dika emang udah sakit sejak awal semester ini, Rik. Sakit stroke, katanya.” Rizka berkata demikian saat aku meneleponnya.
Dika nggak masuk dari kemarin gara-gara harus ke Solo, Rik.” Dan itu adalah respon dari Reza, teman sekelasku yang terakhir kukabari.
Aneh. Mengapa hanya aku seorang yang nampaknya belum tahu apa-apa akan masalah ini? Bahkan Siska mengatakan bahwa ayah Dika meninggal kemarin malam. Ada apa ini? Semua orang sudah tahu tapi aku, yang merupakan sahabat Dika, menjadi orang yang paling terakhir tahu akan kabar ini? Seperti orang kerasukan, aku langsung mengetik SMS secepatnya kepada Dika. Terkirim. Tidak dibalas. Kukirim lagi untuk kedua kalinya. Tiga kali. Masih tidak dibalas. Aku telepon, kudengar nada tersambung, lalu terputus. Kucoba lagi, tapi tetap tidak dijawab. Dika masih sengaja tidak mau berkomunikasi denganku. Apa yang salah? Rasanya aku ingin berteriak. Setelah nyaris satu semester ini ia menghindariku terus, ogah-ogahan berbicara denganku, bahkan sengaja menukar bangkunya sehingga tidak lagi bersebelahan denganku, ia masih tidak mau menghubungi aku di saat-saat seperti ini? Aku terpekur. Hampa. Saat itu, waktu bagai berputar balik. 
*----*
Dua tahun yang lalu ..
Semua ini berawal semenjak aku menginjakkan kaki di kelas 1 SMP. Masih tenggelam dalam euforia, aku masuk ke kelas baruku dengan penuh semangat. Sindrom, karena statusku sekarang adalah anak putih-biru, bukan lagi putih-merah seperti dulu. Tapi euforiaku mendadak lenyap ketika setelah dua minggu masuk sekolah, denah bangku mengharuskanku duduk di deretan paling belakang, bersama seorang cowok berantakan yang kerjaannya hanya tidur saja di kelas. “Dika.” Sesingkat itulah ia memperkenalkan dirinya kepadaku. Pagi-pagi datang ke sekolah sudah dengan seragam yang keluar, sepatu diinjak, dan membawa barang seadanya. Tapi, di sinilah sebenarnya persahabatanku dengan Dika dimulai.
Aku ingat hari itu, hari di mana sepulang sekolah Dika dipanggil Pak Riko untuk berbicara empat mata dengannya. Di tengah jalan pulang menuju gerbang, mendadak aku dicegat oleh Siska—yang juga teman sekelasku— dan disuruh menemui Pak Riko di ruang guru. Aku sempat merasa bingung kenapa aku harus ikut dipanggil segala. Kalau Dika, aku maklum. Kalau aku, yang notabenenya termasuk anak ‘baik-baik’ di kelas, apa masalahnya? Semuanya langsung terjawab tatkala aku masuk dan duduk di samping Dika saat itu juga. 
Rika, bapak harap kamu bisa membantu Dika dalam pelajaran, ya.”
Sa-saya, pak?” Aku langsung tergagap karena kaget.
Pak Riko mengangguk yakin.
Bapak lihat keseluruhan nilai kamu baik dan kamu rajin mengerjakan tugas. Bapak harap kamu bisa membantu Dika supaya nilai-nilainya bisa, ehm, terisi semua.” 
Terisi semua—itu artinya nilai Dika semuanya kosong. Untuk urusan pelajaran, Dika memang parah. Dua minggu sebangku dengannya, tak pernah kulihat ia mengumpulkan PR satu kali pun. Demikian juga saat ulangan. Ia tidur bahkan saat sebelum soal dibagikan, dan ketika waktu ulangan selesai, ia dengan santainya mengumpulkan lembar jawaban yang tidak berisi jawaban itu. 
Kamu bisa mengajari Dika kan, Rika?” Suara Pak Riko menarikku kembali ke alam nyata. Kalau boleh jujur, rasanya aku malaaaaaaasssssss sekali berurusan dengan manusia asal-asalan ini. Tapi, kurasa reaksi penolakanku kepada Pak Riko juga bukan merupakan tindakan yang bijaksana. Wali kelas mana sih, yang mau melihat anak didiknya gagal? Maka, dengan berat hati, aku pun mengangguk. 
Entah bagaimana selanjutnya aku memulai persahabatan dengan Dika. Semua benakku terasa salah. Dika mencoba mulai terbuka denganku.


Nah, bagaimana kelanjutan ceritanya? Masih penasaran? Terus ikutin yaah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages

Explore and Discover with Finano Journalis ! :)