Sabtu, 17 November 2012

Coretan kecil untuk ayah

Pagi ini begitu cerah, matahari menyinari jendela kamarku yang terbuka. Hari ini adalah hari ke sekian kalinya aku memasuki sekolah. Tak begitu menyenangkan, akan tetapi aku harus mencoba membuat semua ini menjadi menyenangkan, walau begitu susah.
Hoaaamm ..” aku bangun lebih awal dari keluargaku yang lainnya. Aku mengambil tongkat yang berada di samping kasur tidurku. Tongkat ini yang selalu menemaniku kemana pun aku pergi.
Aku di lahirkan dengan mata yang berbeda. Mataku buta. Inilah yang harus ku jalani. Kemana-mana aku pergi, aku selalu di temani oleh tongkat yang di berikan almarhummah nenek untukku. Bundaku bekerja sebagai ibu rumah tangga, terkadang ia bekerja untuk mencuci baju keliling. Dulu, bunda sangat menyesal telah melahirkanku dengan mata buta. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu bunda mulai mengikhlaskan semuanya. Bunda sangat menyayangiku. Dan bunda selalu ingin melindungiku dari marabahaya. Sedangkan ayah adalah seorang buruh. Penghasilannya tak menentu. Sejak aku lahir seperti ini, ayah berusaha untuk mencari pendonor mata yang dengan ikhlasnya memberikan matanya untukku. Tetapi, perjuangannya itu sia-sia, tak ada satu pun yang tertarik untuk mendonorkan matanya untukku. Ayah pun menyerah dengan segala cara yang telah ia lakukan. Semenjak itu semua, ayah dan bunda mulai untuk memberikan kasih sayangnya yang hanya teruntuk untukku. Itulah yang harus ku syukuri dari nikmat Allah yang diberikannya padaku.
Aku meraba-raba untuk mencari jalan menuju kamar mandi. Setelah sampai di depan pintu, aku pun langsung masuk dan mandi. Lima menit berlalu, aku telah siap untuk berangkat ke sekolah bersama ayah. Sebelum berangkat, bunda berpesan padaku untuk memakan bekal yang telah di siapkan bunda untukku.
Bunda, aku berangkat dulu ya! Assalamu’alaikum” kataku sambil mencium pipi bunda.
Hati-hati ya, Alya. Jangan lupa bekalnya di makan!” jawab bunda.
Aku dan ayah pun berangkat. Melewati jalan setapak yang selalu ku lalui. Udara segar nan sejuk selalu ku hirup di setiap perjalananku. Tanpa melihat, aku dapat merasakannya dengan hati dan imajinasiku. Seperti apa sebenarnya desaku ini? Ayah sering bercerita di setiap sore ketika ia telah pulang dari pekerjaannya. Ia bercerita bahwa desa ini begitu mengagumkan. Orang-orang desa sangat ramah dan rasa kekeluargaannya begitu tinggi. Ingin ku melihat semuannya dengan mataku ini. Akan tetapi, inilah yang harus ku jalani bersama keluarga yang menyayangiku.
Akhirnya sampai juga di SLB tempat aku sekolah. Sekolah ini adalah salah satu sekolah yang ada di desaku. Desaku terpencil, sehingga tak begitu banyak sekolah yang ada.
Ayah berangkat dulu ya, Alya. Hati-hati di sekolah” kata ayah sambil mencium keningku.
Iya, ayah. Hati-hati juga” jawabku.
Sesampainya aku di kelas. Kelas ini adalah kelas khusus penderita tunanetra atau yang biasa disebut orang-orang yang tidak bisa melihat. Aku mempunyai banyak teman yang bisa menghargaiku. Mereka memang mempunyai keterbatasan yang sema denganku, sehingga mereka bisa menghargai teman-teman lainnya juga. Aku duduk di bangku yang bersebelahan dengan Sheva, sahabatku sejak aku masuk SLB. Di sela-sela waktu luang, Sheva selalu bercerita padaku tentang keluarganya juga tentang tetangganya yang selalu mengejeknya.
Keluarga Sheva termasuk keluarga yang sebanding denganku. Ayahnya adalah pekerja buruh. Penghasilannya juga tak menentu. Tragisnya, ibu Sheva meninggal saat melahirkan Sheva. Itulah yang menjadi keterpurukan Sheva hingga sekarang. Sheva selalu meminta pendapat atau saranku tentang masalah keluarganya. Terkadang juga, Sheva menitikkan air matanya karena teringat akan ibunya. Sedangkan aku hanya bisa menenangkannya agar ia tak menangis lagi.
Selamat pagi anak-anak!” sapa ibu guru yang datang.
Selamat pagi juga ibu guru ..” jawab kami serempak.
Sesuai dengan janji ibu kemarin, hari ini kita akan bermain bersama” kara ibu guru.
Horeeee!!!” jawab kami riang.
Waktu demi waktu berlalu. Matahari terasa berada di atas kepalaku, berarti menandakan bahwa hari telah siang. Waktunya para murid SLB pulang. Aku meraih tongkatku dan berjalan menuju pagar SLB. Tiba-tiba, terdengar suara teriakan seseorang dari kejauhan memanggil namaku,
Alyaaa !!!!” teriak orang tersebut.
Hmm, siapa kamu?” tanyaku bingung.
Saya Linda, tetanggamu. Apa kamu ingat suaraku?” tanyanya balik.
Ooh Linda. Saya ingat. Ada apa ya?” tanyaku penasaran.
Ayahmu .. ayahmu” jawab Linda terbata-bata.
Apa yang terjadi dengan ayahku?” tanyaku sambil manarik-narik baju Linda.
Tadi ayahmu kecelakaan, lalu para tetangga membawanya ke rumah sakit. Sekarang, ayahmu ..” jawabnya tetapi masih belum lengkap.
Ayahku kenapa?” tanyaku mulai sedih tak karuan.
Ayahmu telah meninggal. Aku turut berduka cita, Alya.” jawab Linda.
APA?? Ayah meninggal??”
Perasaanku mulai tak karuan. Sedari tadi aku tak mempunyai firasat apapun. Hanya saja sesekali nafasku terasa sesak. Aku berlari kecil bersama Linda menuju rumah. Sesampainya di rumah, terdengar banyak orang berbicara. Lalu aku di antar oleh Linda menuju ruang tengah rumah. Disana aku mendengar suara tangisan bunda. Bunda langsung memelukku. Entah berapa lama bunda memelukku, hingga seseorang menepuk pundakku. Aku berbalik. Orang tersebut bertanya padaku,
Apa kamu yang bernama Alya?” tanyanya.
Iya, saya Alya. Anda siapa?” tanyaku balik karena aku tak pernah mendengar suara orang tersebut.
Saya dokter Burhan. Saya adalah seorang dokter spesialis mata. Dulu, ayahmu pernah mendatangiku dan beliau berkata jika beliau telah tiada beliau ingin mendonorkan matanya untukmu. Jadi, sekarang saya ingin mengantarmu ke rumah sakit untuk menerima donor mata dari ayahmu itu.” jawab dokter Burhan panjang lebar.
Aku bungkam mendengar penjelasan dokter Burhan. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung di bawa ke rumah sakit tujuan untuk menjalani operasi tersebut. Perjalanan terasa begitu panjang. Detik demi detik. Akhirnya aku sampai juga di rumah sakit dan aku hanya bimbang tak tau apa-apa.
Aku di antar menuju suatu ruang yang aku tak tau entah dimana. Aku tak bisa merasakannya. Hanya terasa sebuah tangan mengajakku menuju ke ruang tersebut. Di ruang itu dingin. Aku hanya dibaringkan disebuah kasur. Setelah itu, aku merasakan sebuah jarum kecil menusuk lenganku. Semenjak itu, mataku terasa lelah. Dan aku pun tertidur. Aku tak tahu apa yang terjadi dalam tidurku. Hanya mimpiku yang menemaniku disini.
Aku melihat dalam mimpiku, ketika aku semasa kecil. Di waktu aku buta tanpa membawa tongkat kesayanganku sekarang. Aku masih meraba-raba. Aku terjatuh ketika aku tak tahu bahwa di depanku terdapat tangga. Terkadang aku sering membuat bunda kaget karena aku datang tanpa di duga, tapi itu karena aku tak tahu bahwa bunda yang ada di depanku. Aku mengingat semua pengalaman di masa kecilku. Disana aku tertawa bersama ayah dan bunda. Lalu, aku di bawa ke dalam mimpiku ketika aku sedang duduk termangu di kursi santai teras rumah. Disana juga ada ayah dan bunda. Ayah berkata padaku,
Alya ..” kata ayah lirih.
Iya, ayah?” jawabku.
Apa kamu senang dengan kehidupanmu sekarang?” tanya ayah seketika.
Aku sangat senang ayah! Yang terpenting adalah aku bisa menjalani hidup ini dengan selalu tersenyum dan ikhlas bersama ayah dan bunda,” jawabku sekenaknya.
Seandainya kamu bisa melihat, apa yang kamu ingin lakukan?” tanya bunda.
Aku hanya ingin berbuat yang terbaik untuk diriku sendiri dan semua orang yang aku sayangi di dunia ini” jawabku sambil tersenyum.
Jika ada pendonor mata untukmu, apa kau mau menerimanya?” tanya ayah kembali
Jika pendonor mata tersebut ikhlas, Insyaallah aku juga akan ikhlas menerimanya.” jawabku. Lalu aku mendengar suara isakan tangis seseorang dan aku bertanya, “Siapa yang menangis,ayah?” tanyaku bingung dan firasatku berkata bahwa bunda sedang menangis sekarang.
“ Ayah tidak mendengar orang menangis kok. Memangnya dimana?” tanya ayah balik. Aku pun dengan sektika menjawab,
Hmm, mungkin aku yang salah dengar, ayah. Maafkan aku,” jawabku. Akan tetapi, firasatku terus mengatakan bahwa bunda sedang menangis dan aku tak dapat memungkirinya.
Kamu pasti menemukan pendonor itu. Ayah berjanji akan mencarikannya untukmu. Tapi kamu harus berjanji satu hal ketika kamu telah bisa melihat nanti,” janji ayah.
Apa janji itu, ayah?” tanyaku.
Kamu harus berbuat kebaikan dimana pun kamu berada. Dan jangan lupakan ibadahmu kepada Allah. Dan teruslah menuntut ilmu hingga kelak kamu akan menjadi orang yang pintar. Janji?” tawaran ayah untuk janjiku kepadanya.
AKU JANJI, AYAH!” kataku lantang.
Lalu semua mimpi ini kabur. Sekarang aku berada di sebuah tempat yang berisi dinding putih. Disana aku melihat, seseorang yang menggunakan baju putih dan bajunya lebih putih dari dinding putih tersebut. Orang tersebut semakin dekat dan terus mendekat. Dan seketika aku sadar bahwa aku bisa melihat. Yeah, aku bisa melihat! Aku bisa melihat bahwa dinding ini berwarna putih dan orang yang mendekat itu menggunakan baju putih! Aku pun gembira. Orang yang mendekat tadi berkata,
Alya?” tanyanya. Siapa dia? Mengapa bisa mengerti namaku?, benakku.
Si .. siapa kamu?” tanyaku terbata-bata.
Ayah, Alya!” jawabnya.
AYAH!!” teriakku. Ingin ku peluk ayah seketika, akan tetapi terasa ada dinding yang menghalangi itu semua.
Alya ..” kata ayah lirih. Teringatku ketika dulu aku sering mendengar suara yang khas ini.
“ Iya, ayah?” jawabku.
Apa kamu bahagia sekarang? Kamu bisa melihat seperti apa yang kamu inginkan.” kata ayah. Ucapan ayah ini membuatku menitikkan air mata.
Aku sangat bahagia, ayah! Apa ayah juga bahagia?” tanyaku balik.
Ayah lebih sangat bahagia! Apa kamu masih ingat dengan janjimu dulu sewaktu kecil pada ayah? Ayah akan menagihnya, hahaha ” tawa ayah sangat khas dan membuatku mengingat-ngingat kembali ketika kecil. Tangisku semakin menjadi-jadi. Lalu, ayah bertanya kembali, “ Mengapa kamu menangis, Alya?.” Aku pun menjawab,
Aku ingat janjiku, ayah! Hanya saja aku merasa takut.” jawabku.
Apa yang kamu takutkan?” tanya ayah kembali.
Aku takut kehilangan ayah. Aku takut tidak bisa berjumpa lagi dengan ayah.” jawabku lalu aku semakin terus menangis.
Maafkan ayah, Alya! Ayah harus pergi, mulai sekarang jalani kehidupanmu walau tanpa ayah. Jaga bundamu baik-baik ya, Alya!” kata ayah. Lama-kelamaan ayah semakin menajuh dariku. Aku tak tahu kemana ayah akan pergi. Aku semakin menangis dan ayah pun menghilang.
Aku hanya sendirian disana. Semua dinding disana terasa mulai pudar. Pandanganku kabur. Aku tak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Lalu, aku mendengar suara seseorang yang berkata padaku,
Bukalah matamu perlahan-lahan ..” kata orang tersebut yang aku tak tahu siapa dia.
Detik demi detik. Aku melihat secercah cahaya dan semakin jelas dan jelas cahaya yang ku lihat tersebut. Ku pandangi seluruh sekeliling isi ruangan. Dan akhirnya aku bisa melihat dengan jelas, seseorang berkata,
Apa kamu sudah bisa melihat dengan jelas sekarang?” tanya orang tersebut yang ternyata ialah dokter Burhan.
Ya, aku bisa sudah melihat,” jawabku senang dan tersenyum lebar.
Selamat Alya, operasi mata ini berhasil. Dan sekarang kamu sudah dapat melihat” kata dokter Burhan.
Terimakasih dokter. Apa setelah ini, saya sudah bisa pulang?” tanyaku.
Akan saya antar kamu pulang. Untuk biaya administrasi saya yang akan membayarnya,” jawab dokter Burhan.
Terimakasih sekali lagi dokter. Saya senang sekali.” jawabku.
Sama-sama ” kata dokter burhan lagi.
Akhirnya, aku diantar oleh dokter Burhan pulang ke rumah. Terkadang, aku tersenyum sendiri melihat aku sudah bisa melihat seisi dunia sekarang. Lalu, aku teringat bahwa sebenarnya mata ini adalah milik ayah dan sekarang ayah sudah tiada. Aku menahan air mataku yang hendak jatuh ke pipi.
Ayah, apa ayah baik-baik saja disana? Apa ayah bahagia melihatku sekarang sudah bisa melihat dengan mata yang ayah miliki dulunya? Oh ayah, aku pasti merindukanmu. Maafkan aku, ayah! Semoga kau tenang di syurga Allah’ benakku dalam hati yang tanpa ku sadari aku di perhatikan oleh dokter Burhan lalu dokter Burhan bertanya,
Apa kamu merindukan ayahmu?” tanyanya.
Ya, aku sangat merindukannya,” jawabku.
Relakan ayahmu, beliau akan tenang disana jika kamu merelakannya. Yang terpenting sekarang mata ayahmu juga milikmu, jadi ketika kamu meirndukannya, kamu syukuri saja bahwa kamu bisa melihat karena ayahmu juga,” jawab dokter Burhan menasehati.
Iya dokter, saya pasti akan mengingatnya. Apa saya boleh bertanya sesuatu?” tanyaku.
Tentu, silahkan ..” jawab dokter Burhan.
Sebenarnya, ayah saya kenapa bisa kecelakaan?” tanyaku.
Ketika beliau hendak pulang dan menjemputmu, beliau sangat ingin membelikan oleh-oleh untukmu yaitu kue pudak, favoritmu, akan tetapi penjual kue pudak tersebut ada di seberang jalan tempat beliau bekerja. Beliau harus menyebrang dulu dan akhirnya beliau lakukan. Ketika menyebrang tersebut ada satu mobil yang berkecepatan tinggi dan menabrak ayahmu.” jelas panjang lebar dokter Burhan.
Ayah, apa di syurga nanti ayah tetap bisa melihat walupun mata ayah telah ayah berikan padaku? Atau malah sebaliknya, aku yang malah tidak bisa melihat ayah untuk selamanya ..? tanyaku dalam hati. Di dalam kesedihanku juga kebahagianku bahwa aku bisa melihat, aku masih bertanya-tanya apakah alamku dan alam ayahku sekarang bisa bersatu seperti alam yang ku alami sekarang? Aku tak tahu apa-apa karena aku baru saja bisa melihat dunia seisinya yang saat ini menjadi syurgaku. Aku masih perlu banyak belajar tentang ini semua.

10 tahun kemudian ..
Ketika aku lulus SMA. Saat ini aku menghadiri pesta wisuda. Aku lulus SMA dengan nilai yang sangat memuaskan. Pesta wisuda ini aku di temani oleh dokter Burhan sebagai ayah angkatku dan aku tetap bersama bunda. Pesta ini sangat meriah. Akan tetapi aku merasa iri ketika melihat teman-temanku bisa berjalan bersama kedua orangtua kandungnya. Mereka tertawa bersama. Sedangkan aku? Aku memang bisa tertawa bersama dokter Burhan dan bunda. Tetapi yang membuatku iri adalah teman-temanku yang bisa tetap utuh bersama orangtua kandung mereka. Aku mulai terbayang-bayang akan sosok ayah. Andaikan saja, ayah menghadiri pesta wisuda ini. Dan ayah tahu bahwa aku meraih nilai yang sangat memuaskan. Aku pasti sangat bahagia. Walaupun begitu aku tetap bersyukur karena aku bisa di beri kesempatan untuk melihat dunia yang begitu mengagumkan.
Dulu sewaktu aku pertama masuk SMA, aku tidak mempunyai banyak teman. Aku adalah pribadi yang pendiam. Banyak cobaan yang ku jalani. Yang tak kusangka, ada sebuah artikel yang di tempel di mading sekolah. Artikel itu berisi kisah nyata seorang anak buta yang di tinggal ayahnya karena kecelakaan dan ayahnya mendonorkan matanya untuk anaknya yang buta tersebut. Di akhir kata artikel itu tertulis bahwa anak buta tersebut bernama ALYA HAMID dan itu adalah namaku. Awalnya aku memang malu lalu lama-kelamaan aku mulai tegar menghadapi semua temanku yang begitu iseng mengerjaiku. Aku memang harus tegar dan bersyukur karena aku tetap bisa melihat.
Aku tersentak kaget ketika teman sebelahku menyenggol lenganku karena aku telah di panggil untuk maju ke panggung menerima ijazah. Aku maju ke depan dengan santai walaupun dalam hati sebenarnya sangat gugup karena aku baru saja melamun tentang masa laluku. Aku memberi senyum kepada guru yang telah membimbingku hingga aku bisa lulus. Aku kembali ke tempat dudukku setelah mendapatkan ijazah. Aku teringat kembali. Jika saja ayah dapat melihat isi ijazahku ini. Pasti ayah sangat bangga dengan apa yang telah ku raih.
Untukmu ayah, semoga ayah mendengarku. Saat ini aku sedang wisuda. Alhamdullah, nilaiku memuaskan. Apa ayah bangga? Semoga ayah bangga dengan apa yang telah ku raih. Sekarang aku juga telah di terima di perguruan tinggi lewat jalur undangan di fakultas kedokteran. Nah, ayah! Sekarang aku telah menepati janjiku dulu, apa ayah masih ingat? Tanpa ayah tagih aku telah menepatinya, hehehe . Apa yang telah aku raih semuanya kupersembahkan untukmu ayah. Semoga kau bahagia. Dan setelah aku lulus dari fakultas kedokteran nanti, aku akan mengabdikan diri demi perkembangan ilmu kedokteran di bidang mata. Dan aku berharap banyak orang yang mau mendonorkan matanya untuk orang lain yang sedang membutuhkan sekarang. Amin . Terimakasih ayah untuk semuanya .
Andai aku bisa mengirim surat pada ayah. Itulah coretan kecilku untukmu ayah.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages

Explore and Discover with Finano Journalis ! :)