Pagi ini begitu
cerah, matahari menyinari jendela kamarku yang terbuka. Hari ini
adalah hari ke sekian kalinya aku memasuki sekolah. Tak begitu
menyenangkan, akan tetapi aku harus mencoba membuat semua ini menjadi
menyenangkan, walau begitu susah.
“ Hoaaamm ..”
aku bangun lebih awal dari keluargaku yang lainnya. Aku mengambil
tongkat yang berada di samping kasur tidurku. Tongkat ini yang selalu
menemaniku kemana pun aku pergi.
Aku di lahirkan
dengan mata yang berbeda. Mataku buta. Inilah yang harus ku jalani.
Kemana-mana aku pergi, aku selalu di temani oleh tongkat yang di
berikan almarhummah nenek untukku. Bundaku bekerja sebagai ibu rumah
tangga, terkadang ia bekerja untuk mencuci baju keliling. Dulu, bunda
sangat menyesal telah melahirkanku dengan mata buta. Akan tetapi,
seiring berjalannya waktu bunda mulai mengikhlaskan semuanya. Bunda
sangat menyayangiku. Dan bunda selalu ingin melindungiku dari
marabahaya. Sedangkan ayah adalah seorang buruh. Penghasilannya tak
menentu. Sejak aku lahir seperti ini, ayah berusaha untuk mencari
pendonor mata yang dengan ikhlasnya memberikan matanya untukku.
Tetapi, perjuangannya itu sia-sia, tak ada satu pun yang tertarik
untuk mendonorkan matanya untukku. Ayah pun menyerah dengan segala
cara yang telah ia lakukan. Semenjak itu semua, ayah dan bunda mulai
untuk memberikan kasih sayangnya yang hanya teruntuk untukku. Itulah
yang harus ku syukuri dari nikmat Allah yang diberikannya padaku.
Aku meraba-raba
untuk mencari jalan menuju kamar mandi. Setelah sampai di depan
pintu, aku pun langsung masuk dan mandi. Lima menit berlalu, aku
telah siap untuk berangkat ke sekolah bersama ayah. Sebelum
berangkat, bunda berpesan padaku untuk memakan bekal yang telah di
siapkan bunda untukku.
“ Bunda, aku
berangkat dulu ya! Assalamu’alaikum” kataku sambil mencium pipi
bunda.
“ Hati-hati ya,
Alya. Jangan lupa bekalnya di makan!” jawab bunda.
Aku dan ayah pun
berangkat. Melewati jalan setapak yang selalu ku lalui. Udara segar
nan sejuk selalu ku hirup di setiap perjalananku. Tanpa melihat, aku
dapat merasakannya dengan hati dan imajinasiku. Seperti apa
sebenarnya desaku ini? Ayah sering bercerita di setiap sore ketika ia
telah pulang dari pekerjaannya. Ia bercerita bahwa desa ini begitu
mengagumkan. Orang-orang desa sangat ramah dan rasa kekeluargaannya
begitu tinggi. Ingin ku melihat semuannya dengan mataku ini. Akan
tetapi, inilah yang harus ku jalani bersama keluarga yang
menyayangiku.
Akhirnya sampai juga
di SLB tempat aku sekolah. Sekolah ini adalah salah satu sekolah yang
ada di desaku. Desaku terpencil, sehingga tak begitu banyak sekolah
yang ada.
“ Ayah berangkat
dulu ya, Alya. Hati-hati di sekolah” kata ayah sambil mencium
keningku.
“ Iya, ayah.
Hati-hati juga” jawabku.
Sesampainya aku di
kelas. Kelas ini adalah kelas khusus penderita tunanetra atau yang
biasa disebut orang-orang yang tidak bisa melihat. Aku mempunyai
banyak teman yang bisa menghargaiku. Mereka memang mempunyai
keterbatasan yang sema denganku, sehingga mereka bisa menghargai
teman-teman lainnya juga. Aku duduk di bangku yang bersebelahan
dengan Sheva, sahabatku sejak aku masuk SLB. Di sela-sela waktu
luang, Sheva selalu bercerita padaku tentang keluarganya juga tentang
tetangganya yang selalu mengejeknya.
Keluarga Sheva
termasuk keluarga yang sebanding denganku. Ayahnya adalah pekerja
buruh. Penghasilannya juga tak menentu. Tragisnya, ibu Sheva
meninggal saat melahirkan Sheva. Itulah yang menjadi keterpurukan
Sheva hingga sekarang. Sheva selalu meminta pendapat atau saranku
tentang masalah keluarganya. Terkadang juga, Sheva menitikkan air
matanya karena teringat akan ibunya. Sedangkan aku hanya bisa
menenangkannya agar ia tak menangis lagi.
“ Selamat pagi
anak-anak!” sapa ibu guru yang datang.
“ Selamat pagi
juga ibu guru ..” jawab kami serempak.
“ Sesuai dengan
janji ibu kemarin, hari ini kita akan bermain bersama” kara ibu
guru.
“ Horeeee!!!”
jawab kami riang.
Waktu demi waktu
berlalu. Matahari terasa berada di atas kepalaku, berarti menandakan
bahwa hari telah siang. Waktunya para murid SLB pulang. Aku meraih
tongkatku dan berjalan menuju pagar SLB. Tiba-tiba, terdengar suara
teriakan seseorang dari kejauhan memanggil namaku,
“ Alyaaa !!!!”
teriak orang tersebut.
“ Hmm, siapa
kamu?” tanyaku bingung.
“ Saya Linda,
tetanggamu. Apa kamu ingat suaraku?” tanyanya balik.
“ Ooh Linda. Saya
ingat. Ada apa ya?” tanyaku penasaran.
“ Ayahmu ..
ayahmu” jawab Linda terbata-bata.
“ Apa yang terjadi
dengan ayahku?” tanyaku sambil manarik-narik baju Linda.
“ Tadi ayahmu
kecelakaan, lalu para tetangga membawanya ke rumah sakit. Sekarang,
ayahmu ..” jawabnya tetapi masih belum lengkap.
“ Ayahku kenapa?”
tanyaku mulai sedih tak karuan.
“ Ayahmu telah
meninggal. Aku turut berduka cita, Alya.” jawab Linda.
“ APA?? Ayah
meninggal??”
Perasaanku mulai tak
karuan. Sedari tadi aku tak mempunyai firasat apapun. Hanya saja
sesekali nafasku terasa sesak. Aku berlari kecil bersama Linda menuju
rumah. Sesampainya di rumah, terdengar banyak orang berbicara. Lalu
aku di antar oleh Linda menuju ruang tengah rumah. Disana aku
mendengar suara tangisan bunda. Bunda langsung memelukku. Entah
berapa lama bunda memelukku, hingga seseorang menepuk pundakku. Aku
berbalik. Orang tersebut bertanya padaku,
“ Apa kamu yang
bernama Alya?” tanyanya.
“ Iya, saya Alya.
Anda siapa?” tanyaku balik karena aku tak pernah mendengar suara
orang tersebut.
“ Saya dokter
Burhan. Saya adalah seorang dokter spesialis mata. Dulu, ayahmu
pernah mendatangiku dan beliau berkata jika beliau telah tiada beliau
ingin mendonorkan matanya untukmu. Jadi, sekarang saya ingin
mengantarmu ke rumah sakit untuk menerima donor mata dari ayahmu
itu.” jawab dokter Burhan panjang lebar.
Aku bungkam
mendengar penjelasan dokter Burhan. Tanpa pikir panjang, aku pun
langsung di bawa ke rumah sakit tujuan untuk menjalani operasi
tersebut. Perjalanan terasa begitu panjang. Detik demi detik.
Akhirnya aku sampai juga di rumah sakit dan aku hanya bimbang tak tau
apa-apa.
Aku di antar menuju
suatu ruang yang aku tak tau entah dimana. Aku tak bisa merasakannya.
Hanya terasa sebuah tangan mengajakku menuju ke ruang tersebut. Di
ruang itu dingin. Aku hanya dibaringkan disebuah kasur. Setelah itu,
aku merasakan sebuah jarum kecil menusuk lenganku. Semenjak itu,
mataku terasa lelah. Dan aku pun tertidur. Aku tak tahu apa yang
terjadi dalam tidurku. Hanya mimpiku yang menemaniku disini.
Aku melihat dalam
mimpiku, ketika aku semasa kecil. Di waktu aku buta tanpa membawa
tongkat kesayanganku sekarang. Aku masih meraba-raba. Aku terjatuh
ketika aku tak tahu bahwa di depanku terdapat tangga. Terkadang aku
sering membuat bunda kaget karena aku datang tanpa di duga, tapi itu
karena aku tak tahu bahwa bunda yang ada di depanku. Aku mengingat
semua pengalaman di masa kecilku. Disana aku tertawa bersama ayah dan
bunda. Lalu, aku di bawa ke dalam mimpiku ketika aku sedang duduk
termangu di kursi santai teras rumah. Disana juga ada ayah dan bunda.
Ayah berkata padaku,
“ Alya ..” kata
ayah lirih.
“ Iya, ayah?”
jawabku.
“ Apa kamu senang
dengan kehidupanmu sekarang?” tanya ayah seketika.
“ Aku sangat
senang ayah! Yang terpenting adalah aku bisa menjalani hidup ini
dengan selalu tersenyum dan ikhlas bersama ayah dan bunda,” jawabku
sekenaknya.
“ Seandainya kamu
bisa melihat, apa yang kamu ingin lakukan?” tanya bunda.
“ Aku hanya ingin
berbuat yang terbaik untuk diriku sendiri dan semua orang yang aku
sayangi di dunia ini” jawabku sambil tersenyum.
“ Jika ada
pendonor mata untukmu, apa kau mau menerimanya?” tanya ayah kembali
“ Jika pendonor
mata tersebut ikhlas, Insyaallah aku juga akan ikhlas menerimanya.”
jawabku. Lalu aku mendengar suara isakan tangis seseorang dan aku
bertanya, “Siapa yang menangis,ayah?” tanyaku bingung dan
firasatku berkata bahwa bunda sedang menangis sekarang.
“ Ayah tidak mendengar orang menangis kok. Memangnya dimana?” tanya ayah balik. Aku pun dengan sektika menjawab,
“ Ayah tidak mendengar orang menangis kok. Memangnya dimana?” tanya ayah balik. Aku pun dengan sektika menjawab,
“ Hmm, mungkin aku
yang salah dengar, ayah. Maafkan aku,” jawabku. Akan tetapi,
firasatku terus mengatakan bahwa bunda sedang menangis dan aku tak
dapat memungkirinya.
“ Kamu pasti
menemukan pendonor itu. Ayah berjanji akan mencarikannya untukmu.
Tapi kamu harus berjanji satu hal ketika kamu telah bisa melihat
nanti,” janji ayah.
“ Apa janji itu,
ayah?” tanyaku.
“ Kamu harus
berbuat kebaikan dimana pun kamu berada. Dan jangan lupakan ibadahmu
kepada Allah. Dan teruslah menuntut ilmu hingga kelak kamu akan
menjadi orang yang pintar. Janji?” tawaran ayah untuk janjiku
kepadanya.
“ AKU JANJI,
AYAH!” kataku lantang.
Lalu semua mimpi ini
kabur. Sekarang aku berada di sebuah tempat yang berisi dinding
putih. Disana aku melihat, seseorang yang menggunakan baju putih dan
bajunya lebih putih dari dinding putih tersebut. Orang tersebut
semakin dekat dan terus mendekat. Dan seketika aku sadar bahwa aku
bisa melihat. Yeah, aku bisa melihat! Aku bisa melihat bahwa dinding
ini berwarna putih dan orang yang mendekat itu menggunakan baju
putih! Aku pun gembira. Orang yang mendekat tadi berkata,
“ Alya?”
tanyanya. Siapa
dia? Mengapa bisa mengerti namaku?,
benakku.
“ Si .. siapa
kamu?” tanyaku terbata-bata.
“ Ayah, Alya!”
jawabnya.
“ AYAH!!”
teriakku. Ingin ku peluk ayah seketika, akan tetapi terasa ada
dinding yang menghalangi itu semua.
“ Alya ..” kata
ayah lirih. Teringatku ketika dulu aku sering mendengar suara yang
khas ini.
“ Iya, ayah?” jawabku.
“ Iya, ayah?” jawabku.
“ Apa kamu bahagia
sekarang? Kamu bisa melihat seperti apa yang kamu inginkan.” kata
ayah. Ucapan ayah ini membuatku menitikkan air mata.
“ Aku sangat
bahagia, ayah! Apa ayah juga bahagia?” tanyaku balik.
“ Ayah lebih
sangat bahagia! Apa kamu masih ingat dengan janjimu dulu sewaktu
kecil pada ayah? Ayah akan menagihnya, hahaha ”
tawa ayah sangat khas dan membuatku mengingat-ngingat kembali ketika
kecil. Tangisku semakin menjadi-jadi. Lalu, ayah bertanya kembali, “
Mengapa kamu menangis, Alya?.” Aku pun menjawab,
“ Aku ingat
janjiku, ayah! Hanya saja aku merasa takut.” jawabku.
“ Apa yang kamu
takutkan?” tanya ayah kembali.
“ Aku takut
kehilangan ayah. Aku takut tidak bisa berjumpa lagi dengan ayah.”
jawabku lalu aku semakin terus menangis.
“ Maafkan ayah,
Alya! Ayah harus pergi, mulai sekarang jalani kehidupanmu walau tanpa
ayah. Jaga bundamu baik-baik ya, Alya!” kata ayah. Lama-kelamaan
ayah semakin menajuh dariku. Aku tak tahu kemana ayah akan pergi. Aku
semakin menangis dan ayah pun menghilang.
Aku hanya sendirian
disana. Semua dinding disana terasa mulai pudar. Pandanganku kabur.
Aku tak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Lalu, aku mendengar
suara seseorang yang berkata padaku,
“ Bukalah matamu
perlahan-lahan ..” kata orang tersebut yang aku tak tahu siapa dia.
Detik
demi detik. Aku melihat secercah cahaya dan semakin jelas dan jelas
cahaya yang ku lihat tersebut. Ku pandangi seluruh sekeliling isi
ruangan. Dan akhirnya aku bisa melihat dengan jelas, seseorang
berkata,
“ Apa kamu sudah
bisa melihat dengan jelas sekarang?” tanya orang tersebut yang
ternyata ialah dokter Burhan.
“ Ya, aku bisa
sudah melihat,” jawabku senang dan tersenyum lebar.
“ Selamat Alya,
operasi mata ini berhasil. Dan sekarang kamu sudah dapat melihat”
kata dokter Burhan.
“ Terimakasih
dokter. Apa setelah ini, saya sudah bisa pulang?” tanyaku.
“ Akan saya antar
kamu pulang. Untuk biaya administrasi saya yang akan membayarnya,”
jawab dokter Burhan.
“ Terimakasih
sekali lagi dokter. Saya senang sekali.” jawabku.
“ Sama-sama ”
kata dokter burhan lagi.
Akhirnya, aku
diantar oleh dokter Burhan pulang ke rumah. Terkadang, aku tersenyum
sendiri melihat aku sudah bisa melihat seisi dunia sekarang. Lalu,
aku teringat bahwa sebenarnya mata ini adalah milik ayah dan sekarang
ayah sudah tiada. Aku menahan air mataku yang hendak jatuh ke pipi.
‘Ayah, apa ayah
baik-baik saja disana? Apa ayah bahagia melihatku sekarang sudah bisa
melihat dengan mata yang ayah miliki dulunya? Oh ayah, aku pasti
merindukanmu. Maafkan aku, ayah! Semoga kau tenang di syurga Allah’
benakku dalam hati yang tanpa ku sadari aku di perhatikan oleh dokter
Burhan lalu dokter Burhan bertanya,
“ Apa kamu
merindukan ayahmu?” tanyanya.
“ Ya, aku sangat
merindukannya,” jawabku.
“ Relakan ayahmu,
beliau akan tenang disana jika kamu merelakannya. Yang terpenting
sekarang mata ayahmu juga milikmu, jadi ketika kamu meirndukannya,
kamu syukuri saja bahwa kamu bisa melihat karena ayahmu juga,”
jawab dokter Burhan menasehati.
“ Iya dokter, saya
pasti akan mengingatnya. Apa saya boleh bertanya sesuatu?” tanyaku.
“ Tentu, silahkan
..” jawab dokter Burhan.
“ Sebenarnya, ayah
saya kenapa bisa kecelakaan?” tanyaku.
“ Ketika beliau
hendak pulang dan menjemputmu, beliau sangat ingin membelikan
oleh-oleh untukmu yaitu kue pudak, favoritmu, akan tetapi penjual kue
pudak tersebut ada di seberang jalan tempat beliau bekerja. Beliau
harus menyebrang dulu dan akhirnya beliau lakukan. Ketika menyebrang
tersebut ada satu mobil yang berkecepatan tinggi dan menabrak
ayahmu.” jelas panjang lebar dokter Burhan.
Ayah, apa di
syurga nanti ayah tetap bisa melihat walupun mata ayah telah ayah
berikan padaku? Atau malah sebaliknya, aku yang malah tidak bisa
melihat ayah untuk selamanya ..?
tanyaku dalam hati. Di dalam kesedihanku juga kebahagianku bahwa aku
bisa melihat, aku masih bertanya-tanya apakah alamku dan alam ayahku
sekarang bisa bersatu seperti alam yang ku alami sekarang? Aku tak
tahu apa-apa karena aku baru saja bisa melihat dunia seisinya yang
saat ini menjadi syurgaku. Aku masih perlu banyak belajar tentang ini
semua.
10
tahun kemudian ..
Ketika
aku lulus SMA. Saat ini aku menghadiri pesta wisuda. Aku lulus SMA
dengan nilai yang sangat memuaskan. Pesta wisuda ini aku di temani
oleh dokter Burhan sebagai ayah angkatku dan aku tetap bersama bunda.
Pesta ini sangat meriah. Akan tetapi aku merasa iri ketika melihat
teman-temanku bisa berjalan bersama kedua orangtua kandungnya. Mereka
tertawa bersama. Sedangkan aku? Aku memang bisa tertawa bersama
dokter Burhan dan bunda. Tetapi yang membuatku iri adalah
teman-temanku yang bisa tetap utuh bersama orangtua kandung mereka.
Aku mulai terbayang-bayang akan sosok ayah. Andaikan saja, ayah
menghadiri pesta wisuda ini. Dan ayah tahu bahwa aku meraih nilai
yang sangat memuaskan. Aku pasti sangat bahagia. Walaupun begitu aku
tetap bersyukur karena aku bisa di beri kesempatan untuk melihat
dunia yang begitu mengagumkan.
Dulu
sewaktu aku pertama masuk SMA, aku tidak mempunyai banyak teman. Aku
adalah pribadi yang pendiam. Banyak cobaan yang ku jalani. Yang tak
kusangka, ada sebuah artikel yang di tempel di mading sekolah.
Artikel itu berisi kisah nyata seorang anak buta yang di tinggal
ayahnya karena kecelakaan dan ayahnya mendonorkan matanya untuk
anaknya yang buta tersebut. Di akhir kata artikel itu tertulis bahwa
anak buta tersebut bernama ALYA HAMID dan itu adalah namaku. Awalnya
aku memang malu lalu lama-kelamaan aku mulai tegar menghadapi semua
temanku yang begitu iseng mengerjaiku. Aku memang harus tegar dan
bersyukur karena aku tetap bisa melihat.
Aku
tersentak kaget ketika teman sebelahku menyenggol lenganku karena aku
telah di panggil untuk maju ke panggung menerima ijazah. Aku maju ke
depan dengan santai walaupun dalam hati sebenarnya sangat gugup
karena aku baru saja melamun tentang masa laluku. Aku memberi senyum
kepada guru yang telah membimbingku hingga aku bisa lulus. Aku
kembali ke tempat dudukku setelah mendapatkan ijazah. Aku teringat
kembali. Jika saja ayah dapat melihat isi ijazahku ini. Pasti ayah
sangat bangga dengan apa yang telah ku raih.
Untukmu
ayah, semoga ayah mendengarku. Saat ini aku sedang wisuda.
Alhamdullah, nilaiku memuaskan. Apa ayah bangga? Semoga ayah bangga
dengan apa yang telah ku raih. Sekarang aku juga telah di terima di
perguruan tinggi lewat jalur undangan di fakultas kedokteran. Nah,
ayah! Sekarang aku telah menepati janjiku dulu, apa ayah masih ingat?
Tanpa ayah tagih aku telah menepatinya, hehehe .
Apa yang telah aku raih semuanya kupersembahkan untukmu ayah. Semoga
kau bahagia. Dan setelah aku lulus dari fakultas kedokteran nanti,
aku akan mengabdikan diri demi perkembangan ilmu kedokteran di bidang
mata. Dan aku berharap banyak orang yang mau mendonorkan matanya
untuk orang lain yang sedang membutuhkan sekarang. Amin
.
Terimakasih
ayah untuk semuanya .
Andai
aku bisa mengirim surat pada ayah. Itulah coretan kecilku untukmu
ayah.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar